sebuah kapal barang atau cargo ship berukuran besar yang sedang berada di laut lepas. EPA


Iran kembali menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026), memicu ketegangan baru di tengah gencatan senjata yang masih rapuh dengan Amerika Serikat. Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah jalur vital tersebut sempat dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan deeskalasi.

Penutupan itu dipicu oleh serangan militer Israel berskala besar ke Lebanon — operasi yang diberi nama "Operation Eternal Darkness" ini melibatkan sekitar 50 jet tempur Angkatan Udara Israel dan sekitar 160 amunisi, menghantam pusat Beirut tanpa peringatan sebelumnya. 

Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menyebut negaranya menghadapi "eskalasi berbahaya" setelah Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara ke seluruh penjuru negeri.

Serangan menyasar berbagai wilayah, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan. Beberapa serangan menghantam kawasan komersial dan permukiman padat saat jam sibuk, memicu kepanikan massal di jalanan. Sebuah serangan Israel bahkan menghantam sebuah pemakaman di desa Shmestar, Lembah Bekaa, saat prosesi pemakaman berlangsung, menewaskan sedikitnya sepuluh orang.

Kepala HAM PBB Volker Türk mengecam serangan tersebut, menyebut skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon sebagai sesuatu yang "tidak kurang dari mengerikan," dan menegaskan bahwa kejadian ini terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dengan Iran disepakati.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengklaim serangan itu menargetkan infrastruktur Hizbullah, termasuk pusat komando di seluruh Lebanon. Namun warga dan pejabat setempat membantah bahwa bangunan-bangunan yang hancur adalah fasilitas militer.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator gencatan senjata, menyatakan Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan. Namun Israel menolak anggapan ini. 

Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kondisi ini berasal dari "kesalahpahaman," dengan mengatakan bahwa gencatan senjata hanya mencakup Iran, Israel, dan sekutu Teluk bukan Lebanon.

Penutupan Selat Hormuz langsung berdampak pada arus tanker minyak global. Jalur ini selama ini dilalui sekitar 22% pasokan minyak dunia dan 20% perdagangan LNG setiap hari, menjadikannya titik krusial bagi stabilitas energi internasional.

Langkah Iran dinilai sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dua minggu yang baru disepakati dengan Amerika Serikat. Dalam perjanjian itu, kedua pihak sepakat menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.

Media pemerintah Iran menyebut penghentian lalu lintas tanker sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon, yang tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan dengan AS. Posisi ini menegaskan bahwa konflik regional yang lebih luas tetap menjadi variabel yang tidak terkendali.

Dari Washington, Gedung Putih mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali. Pemerintah AS menegaskan pentingnya menjaga jalur diplomasi tetap berjalan. Wakil Presiden JD Vance menggambarkan situasi tersebut sebagai ujian awal bagi kesepakatan yang sudah rapuh, dan memperingatkan adanya konsekuensi jika Iran tidak mematuhi komitmen yang telah disepakati.