Sebulan setelah perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel pecah, pola serangan Teheran berubah tajam. Volume tembakan rudal dan drone turun drastis, tetapi tingkat keberhasilan serangan yang menembus pertahanan justru meningkat, menurut sejumlah lembaga riset pertahanan.
Pada hari pertama perang, 28 Februari, Iran menembakkan lebih dari 430 rudal balistik. Angka itu kini merosot menjadi kurang dari 30 per hari.
Laporan Gemunder Center for Defense and Strategy dari Jewish Institute for National Security of America (JINSA) mencatat penurunan ini terjadi setelah serangan udara AS dan Israel menghancurkan sekitar dua pertiga peluncur rudal Iran serta melemahkan rantai komando mereka. Gedung Putih pada 30 Maret menyebut koalisi telah menghantam 13.000 target sejak konflik dimulai.
Namun, berkurangnya intensitas serangan tidak berarti ancaman menurun. Analisis JINSA menunjukkan akurasi serangan meningkat tajam. Dalam dua pekan pertama, hanya sekitar 3% rudal Iran yang menghantam area berpenduduk di Israel. Pada periode 13–22 Maret, angka itu melonjak menjadi sekitar 27%.
Peningkatan ini dikaitkan dengan penggunaan amunisi cluster serta pergeseran target ke lokasi bernilai tinggi. Laporan NPR menyebut sekitar 40 rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan Israel sejak awal perang dan menewaskan sedikitnya 20 orang. The New York Times juga mencatat serangan yang melukai pasukan AS di pangkalan di Arab Saudi, serta menghantam pelabuhan di Oman dan Bandara Internasional Kuwait.
Perubahan pola ini dinilai sebagai hasil adaptasi cepat di lapangan. Firma analisis geopolitik SpecialEurasia melaporkan Iran mulai mengandalkan rudal berbahan bakar padat seperti Kheibar Shekan dan Sejjil. Keduanya dirancang untuk melaju dengan kecepatan tinggi dan mampu mengubah lintasan di tengah penerbangan guna menghindari intersepsi.
Drone Iran juga mengalami peningkatan. JINSA mencatat penggunaan sistem pemandu serat optik yang tahan gangguan elektronik dan memungkinkan terbang di bawah jangkauan radar. Teknologi ini disebut terinspirasi dari dinamika perang Rusia–Ukraina.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai Iran masih memiliki “kapasitas peluncuran yang tersisa” dan cenderung menahan sebagian persenjataannya sambil melanjutkan serangan terbatas yang lebih selektif. Intelijen AS, dikutip NPR, memperkirakan baru sekitar sepertiga arsenal rudal Iran yang benar-benar hancur dalam sebulan konflik.
Di sisi lain, tekanan mulai terasa pada pertahanan udara koalisi. Tingginya tingkat intersepsi yang diperkirakan mencapai 80–90% berimbas pada konsumsi besar rudal pencegat.
Tiga analis dari Royal United Services Institute memperingatkan stok rudal THAAD milik AS bisa habis pada pertengahan April jika laju penggunaan tidak berubah, sementara pasokan baru diperkirakan belum tersedia hingga 2027.
Negara-negara Teluk yang terlibat juga menghadapi tekanan serupa. Analisis JINSA memperkirakan Uni Emirat Arab dan Kuwait telah menggunakan sekitar 75% stok Patriot mereka, sementara Bahrain mencapai 87%.
“Arsitektur pertahanannya masih bertahan, tetapi arah perkembangannya bergerak ke arah yang salah,” ujar Jonathan Cicurel dari JINSA.
Mark Cancian dari CSIS menilai performa pertahanan saat ini mendekati capaian terbaik Ukraina, tetapi sulit dipertahankan tanpa suplai tambahan.
“Tanpa pasokan ulang dari wilayah operasi AS lainnya, tingkat ini tidak akan berkelanjutan,” katanya.

0Komentar