Kekalahan Viktor Orbán dalam pemilu Hungaria menandai berakhirnya era perlindungan mutlak bagi Benjamin Netanyahu di Uni Eropa (UE). Kemenangan telak Partai Tisza pimpinan Peter Magyar tidak hanya menggeser peta politik Budapest, tetapi juga melenyapkan hak veto yang selama ini menjadi tameng diplomatik utama Israel dari sanksi kolektif blok tersebut terkait situasi di Gaza dan Tepi Barat.
Partai Tisza yang beraliran pro-UE berhasil menguasai 138 dari 199 kursi parlemen, sebuah mayoritas dua pertiga yang secara efektif mengakhiri 16 tahun dominasi Partai Fidesz.
![]() |
| Peter Magyar, pemimpin partai oposisi Tisza, mengibarkan bendera Hungaria setelah pengumuman hasil sebagian pemilihan parlemen, di Budapest. |
Dengan partisipasi pemilih yang menyentuh angka 80%, hasil ini menjadi mosi tidak percaya terbesar bagi Orbán sejak ia menjabat. Di hadapan para pendukungnya di Budapest, Peter Magyar menegaskan bahwa kemenangan ini adalah titik balik nasional.
"Malam ini, kebenaran telah mengalahkan kebohongan," ujar Magyar.
Selama bertahun-tahun, Orbán memposisikan Hungaria sebagai satu-satunya anggota UE yang konsisten memblokir kebijakan keras terhadap Israel. Salah satu momen krusial terjadi pada Februari lalu, ketika Budapest berdiri sendiri menentang sanksi terhadap pemukim ekstremis Israel di Tepi Barat. Langkah ini sempat membuat Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, frustrasi karena kebijakan luar negeri blok tersebut harus diambil berdasarkan kebulatan suara.
"Kami tidak melakukan apa yang diinginkan mayoritas, kami hanya melakukan apa yang diinginkan negara itu," jelas Kallas kala itu.
Diplomasi ICC dan akhir perlindungan
Kehilangan sosok Orbán berarti kehilangan satu-satunya pemimpin UE yang bersedia secara terbuka menentang International Criminal Court (ICC). Setelah ICC merilis surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada November 2024, Orbán menjamin bahwa perintah tersebut tidak berlaku di wilayah Hungaria. Ia bahkan tetap menjamu Netanyahu di Budapest pada April 2025 meski di bawah ancaman penyelidikan resmi mahkamah internasional.
Namun, arah kebijakan ini dipastikan berubah di bawah kepemimpinan Magyar. Partai Tisza telah memberi sinyal kuat untuk membatalkan rencana penarikan diri Hungaria dari ICC. Konsekuensinya, ruang gerak diplomatik Netanyahu di Eropa akan menyempit secara drastis karena Budapest tidak lagi menjadi zona aman bagi perdana menteri Israel tersebut.
Meski demikian, para analis menilai Hungaria tidak akan langsung berubah menjadi negara yang vokal menyerang Israel seperti Spanyol atau Irlandia. Peter Magyar, sebagai politikus konservatif tengah-kanan, cenderung akan membawa Budapest pada posisi moderat yang lebih selaras dengan kebijakan luar negeri Jerman.
"Sudah cukup bagi Magyar untuk menjadikan Hungaria seperti Jerman — negara yang sangat mendukung Israel namun tidak memveto keputusan-keputusan anti-Israel," tutur seorang sumber yang dekat dengan kubu Magyar kepada Ynet Israel.
Pergeseran keseimbangan di Brussels
Bagi pemerintahan Netanyahu, perubahan di Hungaria merupakan pukulan telak bagi strategi "pecah belah" yang selama ini digunakan untuk melemahkan konsensus UE.
Tanpa hak veto Hungaria, kecaman resmi dari Uni Eropa kini bisa dikeluarkan atas nama organisasi secara utuh, bukan lagi sebagai pernyataan pribadi pejabat tinggi seperti yang sering terjadi sebelumnya.
Namun, instrumen tekanan yang lebih berat, seperti penangguhan Perjanjian Asosiasi UE-Israel, masih belum bisa dipastikan akan terjadi dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan mekanisme tersebut membutuhkan mayoritas yang memenuhi syarat, di mana negara-negara besar seperti Italia dan Jerman masih memegang peranan penting dalam menghalangi langkah tersebut.
Israel kini harus bersiap menghadapi dinamika baru yang lebih sulit di Brussels tanpa sekutu ideologis terkuatnya. Sebagaimana dirangkum oleh sumber internal di lingkungan Magyar, transisi ini lebih bersifat struktural daripada emosional.
"Dia tidak membenci Israel. Akan ada perubahan nada, dan Israel akan menghadapi lebih banyak kesulitan di UE, tapi kita tidak akan kehilangan Hungaria. Netanyahu sendiri yang akan kehilangan seorang sahabat dekat," tambahnya.


0Komentar