![]() |
| Bendera negara-negara anggota ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. | ITASEAN |
Survei tahunan di Asia Tenggara menunjukkan pergeseran sikap publik terhadap dua kekuatan besar dunia. Amerika Serikat kini dipandang lebih mengkhawatirkan dibandingkan sebelumnya, sementara Tiongkok muncul sebagai pilihan utama tipis jika responden dipaksa memilih antara keduanya.
Temuan ini berasal dari State of Southeast Asia 2026 yang dirilis ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura pada Selasa, berdasarkan 2.008 responden dari 11 negara ASEAN termasuk Timor-Leste.
Dalam survei tersebut, 51,9% responden menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump sebagai kekhawatiran geopolitik terbesar di kawasan. Angka itu melampaui isu agresivitas di Laut China Selatan yang berada di 48,2%.
Hasil ini menjadi pembalikan dari temuan tahun sebelumnya, ketika tingkat kepercayaan terhadap Washington sempat membaik. Kini, persepsi terhadap AS kembali melemah di bidang perdagangan, keamanan, dan diplomasi.
Di saat yang sama, Tiongkok tetap menjadi aktor dengan pengaruh besar di kawasan, meski tidak tanpa resistensi. Banyak negara ASEAN masih menilai dinamika antara dua kekuatan ini sebagai faktor utama yang membentuk kebijakan luar negeri mereka.
Dalam pertanyaan pilihan paksa antara AS dan Tiongkok, 52% responden menyatakan akan berpihak kepada Tiongkok. Angka ini berbalik tipis dari hasil tahun 2025 yang sebelumnya memberi keunggulan kecil kepada AS.
Dukungan terhadap Tiongkok tercatat tinggi di sejumlah negara, termasuk Indonesia yang mencapai 80,1%, Malaysia 68%, dan Singapura 66,3%. Sebaliknya, Filipina 76,8% serta Myanmar, Kamboja, dan Vietnam cenderung lebih memilih AS.
Laporan itu menilai selisih yang relatif sempit menunjukkan kawasan tidak bergerak ke satu poros tunggal. “Selisih regional yang relatif tipis (52–48) mencerminkan lanskap strategis yang terbelah dalam, bukan pergeseran tegas menuju satu kutub,” tertulis dalam laporan tersebut.
Kepercayaan terhadap perdagangan AS menurun
Erosi kepercayaan terhadap Amerika Serikat paling terlihat di sektor perdagangan. Hanya 14,8% responden yang menyatakan yakin AS mampu mendukung perdagangan bebas global, turun dari 19% pada tahun sebelumnya.
Posisi AS dalam hal ini berada di bawah ASEAN sendiri, Tiongkok, dan Uni Eropa. Sebagian responden yang memiliki pandangan negatif terhadap Washington menyoroti penggunaan tarif dan sanksi sebagai faktor utama.
Sebanyak 43,4% responden dengan pandangan negatif menyebut kebijakan perdagangan AS sebagai sumber kekhawatiran utama.
Peran keamanan AS masih bertahan
Meski kepercayaan di sektor ekonomi melemah, AS masih dipandang penting dalam aspek keamanan regional. Sebanyak 42,7% responden menyatakan keyakinan terhadap peran Washington sebagai mitra strategis dan penjamin keamanan di Asia Tenggara.
Tingkat kepercayaan ini masih lebih tinggi dibanding ketidakpercayaan di sebagian besar negara ASEAN, meski pengecualian muncul di Singapura, Indonesia, dan Malaysia yang menunjukkan sikap lebih kritis terhadap peran AS.
Di sisi lain, Tiongkok juga tidak sepenuhnya diterima tanpa kekhawatiran. Isu yang paling sering muncul adalah potensi campur tangan dalam urusan domestik negara ASEAN sebesar 30,3%, diikuti taktik intimidasi di Laut China Selatan dan Sungai Mekong sebesar 28%.
Dinamika ASEAN dan posisi di antara dua kekuatan
Survei ini juga menyoroti tekanan yang dihadapi ASEAN dalam menjaga posisi netral di tengah persaingan AS–Tiongkok. Sebanyak 55,2% responden menilai ASEAN perlu memperkuat ketahanan dan persatuan internal untuk menghadapi dinamika dua kekuatan tersebut.
Sebanyak 24,1% responden masih mendukung posisi tidak berpihak, mempertahankan tradisi non-blok kawasan.
Joanne Lin, peneliti utama laporan tersebut, menggambarkan persepsi terhadap Tiongkok sebagai sesuatu yang sulit dihindari dalam struktur kawasan. Namun ia menekankan adanya ekspektasi agar Beijing tetap mengedepankan pengendalian diri.
“Asia Tenggara memandang kekuatan Tiongkok sebagai sesuatu yang bersifat struktural dan tidak dapat dihindari, namun tetap berharap kekuatan itu diimbangi dengan pengendalian diri, penghormatan terhadap hukum internasional, dan jaminan keamanan,” kata dia.

0Komentar