Peresmian Terminal 7 di Pelabuhan Kaohsiung oleh Evergreen Marine Corp. (EMC) di Pelabuhan Kaohsiung. | EVERGREEN

Ketika Donald Trump berdiri di Taman Mawar Gedung Putih pada 2 April 2025 dan mengumumkan tarif besar-besaran terhadap puluhan negara, narasi yang dibangun cukup jelas bahwa Amerika Serikat telah terlalu lama dirugikan oleh ketidakseimbangan perdagangan global, dan sudah saatnya neraca itu dikoreksi. China, Vietnam, dan negara-negara dengan surplus besar terhadap AS menjadi target utama. Taiwan, meski ikut disebut, bukan pusat dari cerita itu.

Setahun kemudian, ironi terbesar justru datang dari sana.

Ekspor Taiwan ke AS melonjak sekitar 78% sepanjang 2025, mencapai $198,2 miliar — angka yang mendorong pertumbuhan ekonomi pulau itu ke level 8,6% per tahun. 

Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, AS mengimpor lebih banyak barang dari Taiwan dibanding dari China. Posisi yang terakhir kali terjadi pada 1992 itu kini terulang kembali, bukan karena strategi geopolitik yang terencana, melainkan karena persinggungan antara kebijakan tarif, pengecualian produk tertentu, dan gelombang permintaan kecerdasan buatan yang tidak terbendung.

Ketika pengecualian menjadi keuntungan

Untuk memahami mengapa Taiwan menjadi penerima manfaat terbesar, penting untuk melihat apa saja yang tidak dikenai tarif. 

Semikonduktor yang merupakan tulang punggung ekspor Taiwan dikecualikan dari skema tarif Trump. Begitu pula sebagian besar komputer dan aksesori komputasi. Produk-produk inilah yang justru sedang paling dibutuhkan dunia—chip untuk melatih model AI, server untuk pusat data, dan komponen yang menggerakkan ekosistem digital global.

Kantor Pusat (Headquarters) dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) di Hsinchu Science Park, Taiwan. CNA

TSMC, perusahaan semikonduktor Taiwan, memproduksi lebih dari 90% chip paling canggih di dunia termasuk akselerator AI Nvidia yang menjadi inti dari ledakan investasi di sektor kecerdasan buatan. Ketika Google, Microsoft, dan perusahaan teknologi besar lainnya menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk membangun infrastruktur AI, permintaan terhadap produk Taiwan ikut melonjak. 

Ekspor semikonduktor Taiwan tumbuh 37,4% secara tahunan, sementara pengiriman produk komputasi ke AS melonjak 127% sepanjang 2025. Momentum ini bahkan berlanjut ke 2026: pada Januari saja, ekspor Taiwan ke AS naik 151,8% secara tahunan.

Dalam konteks ini, Taiwan tidak sekadar "beruntung." Posisinya sebagai pemain tak tergantikan dalam rantai pasok teknologi global menjadikannya hampir kebal terhadap tarif yang dirancang untuk menekan negara lain.

Putusan Mahkamah Agung yang mengubah segalanya

Sementara Taiwan menikmati lonjakan ekspor, kerangka hukum di balik tarif Trump sendiri mengalami guncangan besar. 

Gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat yang terletak di Washington, D.C. | GEOFF LIVINGSTONE/FLICKR

Pada 20 Februari 2026, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan dengan suara 6-3 dalam perkara Learning Resources, Inc. v. Trump bahwa IEEPA—undang-undang yang digunakan Trump sebagai dasar hukum tarif—tidak memberikan kewenangan kepada presiden untuk memberlakukan pungutan impor. 

Kekuasaan mengenakan pajak impor, kata pengadilan, hanya dimiliki Kongres.

Putusan itu memaksa Gedung Putih bergerak cepat. Dalam hitungan jam, pemerintahan Trump beralih ke Pasal 122 dari Trade Act of 1974, memberlakukan tarif tetap 10% pada sebagian besar impor mulai 24 Februari. 

Namun kewenangan itu datang dengan batas: maksimal 15% dan berlaku paling lama 150 hari—jauh berbeda dari tarif tinggi dan fluktuatif yang sebelumnya mengejutkan pasar global. Rata-rata tarif AS tertimbang perdagangan kini berada di sekitar 13%, turun dari lebih dari 15% sebelum putusan pengadilan.

Ryan Young dari Competitive Enterprise Institute menyebut kondisi ini sebagai "setengah dari ancaman awal, tapi tetap cukup buruk." Tarif memang lebih rendah dari yang pernah dibayangkan, namun efeknya terhadap harga barang konsumen dan rantai pasok global sudah terlanjur terasa.

China: kalah di AS, menang di tempat lain

Di ujung lain spektrum, China menghadapi penurunan ekspor ke AS sebesar 29% sepanjang 2025, dengan penurunan lebih lanjut 35% pada Januari 2026. Angka-angka itu sekilas tampak seperti bukti keberhasilan kebijakan tarif Trump. Namun gambar yang lebih besar menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Surplus perdagangan China secara keseluruhan justru mencapai rekor $1,2 triliun pada 2025 — rekor sepanjang sejarah. 

Kontainer pengiriman dari perusahaan China Shipping (CSLU) yang sedang diangkut menggunakan kereta api. | SMUGMUF

Para eksportir China mengalihkan arus barang ke pasar lain, dengan ekspor ke Afrika melonjak 26%, ke Asia Tenggara naik 13%, ke Uni Eropa sekitar 8-10%, dan ke Amerika Latin 7%. Renminbi yang melemah ikut membantu, membuat produk China lebih kompetitif secara harga di pasar-pasar tersebut. 

Penelitian dari Bank Sentral Eropa menemukan bahwa ekspor China ke Uni Eropa naik hampir 10% dari April hingga Desember 2025, meski pengalihan perdagangan yang lebih luas masih terkonsentrasi pada kelompok produk tertentu.

Pola ini menunjukkan bahwa tekanan tarif tidak serta-merta memangkas kapasitas ekspor China, melainkan mengubah arahnya. Amerika kehilangan akses ke barang murah China, sementara negara-negara lain mendapatkan lebih banyak dari apa yang tadinya mengalir ke AS.

Janji vs. data

Kantor Perwakilan Dagang AS merayakan peringatan satu tahun ini dengan klaim bahwa program tarif telah mengecilkan defisit perdagangan barang sebesar 24% sejak April 2025. Namun para ekonom independen memberikan penilaian yang lebih bernuansa dan sebagian besar lebih kritis.

Lapangan kerja manufaktur AS, yang menjadi salah satu alasan utama dibalik kebijakan tarif, justru terus menyusut. Sekitar 89.000 pekerjaan di sektor itu hilang antara April 2025 dan Februari 2026. Harga barang konsumen naik sekitar 2% sepanjang tahun, dengan estimasi bahwa 90 hingga 95% beban tarif diteruskan langsung ke konsumen. 

Kimberly Clausing, profesor kebijakan pajak di UCLA School of Law, menyimpulkan hasilnya sebagai "harga yang lebih tinggi, gangguan ekonomi, aliansi yang retak, dan hilangnya lapangan kerja manufaktur."

Di sisi lain, argumen bahwa tarif telah berhasil mendorong reindustrialisasi Amerika belum mendapat dukungan data yang kuat dalam jangka waktu satu tahun ini.


Satu tahun berjalan, pertanyaan terbesar bukan lagi soal apakah tarif berhasil atau gagal—melainkan soal standar apa yang digunakan untuk mengukurnya. 

Defisit perdagangan memang mengecil dalam beberapa kategori, namun rantai pasok global telah bergeser dengan cara yang belum sepenuhnya bisa diprediksi dampak jangka panjangnya. Taiwan tumbuh pesat, China menemukan pasar baru, dan konsumen Amerika menanggung sebagian besar biaya transisi.

Kewenangan tarif berdasarkan Pasal 122 yang digunakan saat ini akan berakhir dalam 150 hari. Kongres bisa turun tangan, pemerintahan Trump bisa mencari landasan hukum baru, atau negosiasi bilateral membuka jalur yang belum terlihat sekarang. Yang sudah jelas adalah peta perdagangan global yang terbentuk selama setahun ini tidak akan mudah dikembalikan ke posisi semula.