Sistem pertahanan udara Rapid Sentry dalam pelatihan di Inggris. | INSTAGRAM/RAF REGIMENT


Inggris mengerahkan sistem pertahanan udara ke Kuwait di tengah upaya membentuk koalisi internasional untuk merespons penutupan Selat Hormuz oleh Iran, langkah yang menandai kombinasi tekanan diplomatik dan sinyal kesiapan militer.

Lebih dari 40 negara mengikuti pertemuan virtual yang dipimpin Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada 2 April. Pertemuan itu difokuskan pada koordinasi respons bersama, mulai dari dorongan diplomatik di Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga opsi sanksi dan kerja sama dengan industri pelayaran untuk memulihkan lalu lintas di salah satu jalur energi tersibuk dunia.

Ringkasan resmi pemerintah Inggris menyebut forum tersebut juga dihadiri Uni Eropa dan Organisasi Maritim Internasional. Sejumlah laporan media seperti Reuters dan NPR menyebut Amerika Serikat tidak ikut serta dalam pertemuan tersebut, meski sekutu-sekutunya terlibat aktif.

Langkah ini muncul setelah Presiden Donald Trump mendorong negara-negara yang bergantung pada Selat Hormuz untuk mengambil peran utama dalam membuka kembali jalur tersebut. Penutupan selat oleh Iran telah mengganggu arus perdagangan energi global dan meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk.

Pemerintah Inggris menekankan pendekatan awal masih bertumpu pada tekanan diplomatik. Para peserta sepakat mengintensifkan upaya terkoordinasi di PBB serta mengkaji “langkah-langkah ekonomi dan politik, seperti sanksi,” sambil bekerja sama dengan Organisasi Maritim Internasional dan pelaku industri untuk membebaskan kapal serta awak yang tertahan.

Perdana Menteri Keir Starmer sehari sebelumnya telah mengisyaratkan arah tersebut. Ia menyebut fokus langsung adalah memulihkan kebebasan navigasi dan melindungi kapal serta pelaut yang terdampak. 

“Langkah diplomatik dan politik menjadi prioritas,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perencana militer akan dikumpulkan untuk membahas opsi lanjutan setelah situasi memungkinkan.

Tekanan meningkat setelah konflik menjalar ke infrastruktur Teluk. Reuters melaporkan serangan drone Iran pada 1 April memicu kebakaran di tangki bahan bakar Bandara Internasional Kuwait. Laporan lanjutan menyebut adanya serangan tambahan terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur lainnya di negara tersebut.

Dalam konteks itu, London pada 3 April mengumumkan pengerahan sistem pertahanan udara Rapid Sentry ke Kuwait. Langkah ini disebut untuk melindungi kepentingan Inggris dan Kuwait, sekaligus memperkuat lapisan keamanan di tengah situasi yang memburuk.

Meski demikian, rincian operasional koalisi masih terbatas. Inggris belum mengumumkan rencana aksi militer atau patroli maritim bersama. Fokus utama tetap pada peningkatan tekanan terhadap Iran agar membuka kembali selat tersebut tanpa syarat, sembari menyiapkan opsi lanjutan jika upaya diplomasi tidak membuahkan hasil.