![]() |
| RS-24 Yars, sistem rudal balistik antarbenua (ICBM) bergerak andalan Rusia. | RUSSIAN DEFENCE MINISTRY |
Rusia menggelar latihan pasukan rudal strategis di Siberia saat ketegangan di dalam aliansi Barat meningkat menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat dari NATO. Moskwa menampilkan kesiapan nuklirnya ketika perbedaan posisi antara Washington dan sekutu Eropa kian terbuka.
Latihan yang diumumkan Kementerian Pertahanan Rusia itu melibatkan sistem rudal balistik antarbenua Yars. Menurut laporan Reuters, fokus latihan berada pada pengerahan unit bergerak ke area patroli baru dalam kondisi tempur simulasi. Awak rudal berlatih kamuflase, merespons serangan musuh, hingga menghadapi skenario serangan udara.
Tidak ada peluncuran rudal dalam latihan tersebut. Namun manuver pemindahan unit antar posisi lapangan tetap dilakukan untuk menjaga kesiapsiagaan operasional. Sistem Yars dikenal sebagai tulang punggung daya tangkal nuklir Rusia, dengan jangkauan hingga 11.000 km dan kemampuan membawa beberapa hulu ledak yang dapat diarahkan ke target berbeda.
Latihan ini datang beberapa bulan setelah Presiden Vladimir Putin mengawasi langsung latihan nuklir skala lebih luas pada Oktober 2025 yang mencakup peluncuran rudal Yars dan rudal balistik kapal selam Sineva.
Di saat yang sama, retakan di tubuh NATO kian terlihat. Dalam wawancara dengan The Telegraph, Trump menyebut NATO sebagai “macan kertas” dan menyatakan rencana keluar dari aliansi itu “tidak dapat ditawar lagi”. Ia menilai sekutu Eropa tidak mendukung langkah militer AS bersama Israel terhadap Iran.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Eropa. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menilai dinamika tersebut justru menguntungkan Rusia.
“Ancaman perpecahan NATO, pelonggaran sanksi terhadap Rusia, krisis energi besar-besaran di Eropa, penghentian bantuan untuk Ukraina, dan pemblokiran pinjaman untuk Kyiv oleh Orbán — semua ini tampak seperti rencana impian Putin,” tulisnya.
Kekhawatiran serupa disuarakan sejumlah pejabat Uni Eropa yang melihat sikap Trump berpotensi melemahkan posisi kolektif Barat terhadap Moskwa.
Di dalam negeri, langkah keluar dari NATO tidak bisa dilakukan sepihak oleh presiden AS. Undang-undang 2023 mewajibkan persetujuan dua pertiga Senat atau tindakan Kongres. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menegaskan lembaganya tidak akan menyetujui langkah tersebut.
“Senat tidak akan memberikan suara untuk meninggalkan NATO dan meninggalkan sekutu kita hanya karena Trump kesal mereka tidak mau mengikuti perang pilihannya yang sembrono,” ujarnya.
Senator Mark Warner menyebut ancaman itu “sembrono” dan “berbahaya”, serta memperingatkan bahwa langkah tersebut akan “langsung menguntungkan musuh-musuh kita”.
Ketegangan ini juga berkaitan dengan kebijakan energi. Pada Maret, Trump sempat melonggarkan sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia untuk meredam lonjakan harga di tengah konflik Iran, keputusan yang menuai kritik dari ibu kota Eropa.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan mengunjungi Washington dalam waktu dekat untuk membahas situasi tersebut.

0Komentar