![]() |
| Foto 2 Mei dari Angkatan Laut AS ini menunjukkan F/A-18F Super Hornet bersiap untuk diluncurkan di USS Harry S. Truman. Angkatan Laut AS/File |
Sebulan setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah secara terbuka, satu pertanyaan menggantung di atas seluruh kalkulasi strategis Washington: apakah kekuatan militer terbesar di dunia benar-benar bisa memaksa Iran menyerah?
Jawabannya, setidaknya untuk saat ini, jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan.
Secara kasat mata, Amerika Serikat unggul di hampir semua dimensi. Populasinya lebih dari tiga kali lipat Iran. Anggarannya pertahanannya melampaui gabungan belasan negara. Ditambah dengan mesin intelijen dan militer Israel yang terasah selama puluhan tahun, pertarungan ini secara teori seharusnya tidak seimbang
—dan seharusnya cepat berakhir.
Tetapi superioritas militer mentah tidak selalu diterjemahkan menjadi kemenangan strategis. Iran memahami hal ini dengan baik, dan secara sadar mengubah sejumlah kelemahan strukturalnya menjadi titik tekanan yang menyakitkan bagi Washington.
Satu bulan ke dalam perang, sejumlah analis bahkan menilai Teheran telah merebut inisiatif strategis, bukan dengan mengalahkan AS di medan perang, melainkan dengan membuat AS terjebak dalam situasi di mana setiap pilihan militer datang bersama biaya politik dan ekonomi yang tidak dapat diterima.
Unggul di atas kertas, terjebak di lapangan
Langkah paling signifikan Iran adalah menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran sempit yang menjadi urat nadi ekspor energi global. Sebelum perang, lebih dari 100 kapal tanker melintasi selat itu setiap harinya. Kini, angka itu anjlok drastis.
![]() |
| kapal tanker minyak/kimia LUOJIASHAN.di Selat Hormuz. REUTERS |
Dampaknya tidak terbatas pada kawasan. Gangguan lalu lintas maritim selama berminggu-minggu telah memicu krisis bahan bakar sejauh Afrika dan Asia. Jika blokade berlanjut, potensi kehancuran ekonomi global menjadi semakin nyata dan biaya politik domestik bagi Trump pun kian membengkak.
Yang membuat ini semakin menyakitkan bagi Washington adalah fakta bahwa Iran tidak memerlukan armada besar untuk mempertahankan tekanan ini. Teheran cukup melempar beberapa proyektil ke arah jalur pelayaran atau ke cakrawala kota-kota Teluk—untuk mempertahankan efek intimidasi yang tidak proporsional dengan kapasitas militernya yang tersisa.
Kemenangan kosong di podium Gedung Putih
Kontradiksi strategis AS menjadi gamblang ketika Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, dalam sebuah brifing pers, menyebut kesediaan Iran mengizinkan 20 kapal tanker tambahan melintasi Selat sebagai "kemenangan diplomasi presiden."
Namun optiknya justru berbalik. Rata-rata harian kapal tanker sebelum perang melampaui angka 100. Kembalinya 20 kapal tanker, dalam narasi Leavitt, bukan merupakan pencapaian—melainkan hanya pembatalan sebagian kecil dari dampak negatif yang diciptakan perang itu sendiri.
Sebagai kekuatan yang jauh lebih besar, Amerika Serikat seharusnya tidak berada dalam posisi menegosiasikan konsesi semacam ini dari Iran. Kenyataan bahwa Washington melakukannya menunjukkan betapa terbatasnya ruang gerak AS ketika dihadapkan pada tekanan selat.
Mengapa AS tak bisa sekadar "membuka" selat
Secara teknis, Angkatan Laut AS memiliki kapasitas untuk membuka Selat Hormuz dengan kekuatan. Namun secara politik, langkah itu penuh jebakan.
Mengirim armada kapal perang melalui Selat berarti memberi Iran peluang propaganda raksasa: satu kapal AS yang tenggelam atau rusak akibat serangan Iran akan menjadi gambar yang mengubah narasi perang secara global.
Lebih jauh lagi, mendorong pasukan Iran mundur dari tepi selat kemungkinan mensyaratkan operasi darat dengan risiko nyata korban jiwa tentara Amerika. Bagi seorang presiden yang dukungan politiknya sudah di titik rendah, ini adalah risiko yang sulit ditanggung.
![]() |
| Pulau Kharg di Teluk Persia. WIKIPEDIA |
Dilema yang sama muncul dalam wacana perebutan Pulau Kharg, pusat saraf ekspor minyak Iran di Teluk Persia utara. Trump dikabarkan mempertimbangkan opsi penyitaan aset minyak Iran. Langkah itu mungkin mencekik ekonomi Iran, tetapi tidak ada jaminan rezim akan menyerah dan justru bisa memperkuat insentif Iran untuk memperketat blokade Selat.
Trump sendiri telah memperingatkan bahwa jika Iran tidak mau berunding, AS siap "benar-benar melenyapkan" seluruh infrastruktur energi dan desalinasi Iran termasuk Pulau Kharg dan pembangkit listrik. Ancaman ini, meski mencerminkan keunggulan militer AS yang nyata, datang dengan konsekuensi berantai yang tidak kalah destruktif.
Serangan terhadap fasilitas energi Iran hampir pasti memantik serangan balasan terhadap infrastruktur serupa milik sekutu-sekutu Teluk AS. Pasar global akan terguncang. Risiko resesi yang sudah meningkat akan makin tinggi. Dan penghancuran pabrik desalinasi—fasilitas vital untuk kelangsungan hidup di kawasan gurun yang kering—memunculkan pertanyaan serius tentang batas-batas hukum perang, sesuatu yang sudah mulai dipertanyakan wartawan secara terbuka kepada Leavitt.
Kartu yang belum dimainkan — dan mengapa sulit dimainkan
Washington sebenarnya masih menyimpan satu kartu penting, yaitu pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Selama bertahun-tahun, sanksi ekonomi telah membuat Iran bertekuk lutut—ketidakmampuan menjual minyak melalui saluran normal menjadi salah satu pemicu keresahan domestik yang berulang, termasuk pemberontakan yang ditumpas secara brutal oleh aparat keamanan Iran.
Namun kartu ini pun sulit dimainkan. Pemerintahan Trump telah membuktikannya sendiri.
![]() |
| Trump resmi menandatangani dokumen kesepakatan perdamaian di Gaza (AFP/SAUL LOEB). |
Awal bulan ini, mereka terpaksa mencabut sanksi terhadap kapal-kapal Iran di laut, bukan karena alasan diplomatik, melainkan karena khawatir dengan lonjakan harga minyak global. Artinya, mencekik ekspor minyak Iran berpotensi merugikan Trump sama besarnya dengan Iran.
Di sisi lain, daftar 15 poin tuntutan damai yang diajukan Washington berisi sejumlah syarat yang hampir mustahil diterima Teheran termasuk pembatasan ketat program rudal Iran dan penyerahan kendali atas Selat Hormuz tanpa syarat. Tanpa tawaran nyata sebagai pemanis, diplomasi sulit bergerak.
Pemerintahan Trump secara rutin merilis pembaruan harian jumlah serangan terhadap target Iran yang pada hari Senin telah melampaui angka 11.000. Namun cara komunikasi ini menuai kritik.
Beberapa analis mengingatkan kemiripannya dengan strategi penghitungan "body count" selama Perang Vietnam—metrik yang pada akhirnya lebih banyak mengaburkan realitas perang ketimbang menggambarkannya. Angka tinggi serangan tidak dengan sendirinya mencerminkan kemajuan strategis, apalagi kemenangan.
Pengaruh Iran yang tumbuh seiring waktu
Paradoks paling mengganggu dalam konflik ini adalah semakin lama perang berlangsung, semakin kuat posisi tawar Iran—setidaknya dalam jangka pendek.
Setiap hari tambahan berarti tekanan ekonomi yang semakin mencekik bagi konsumen global, sekutu-sekutu Teluk AS yang tengah berupaya membangun ekonomi pasca-karbon mereka, dan pemilih domestik Amerika. Trump, yang mengelola perang sambil menjaga angka-angka ekonomi, menghadapi tekanan waktu yang semakin riil.
"Semakin lama dia kehilangan kemampuan itu, insentif untuk mencari jalan keluar akan bergeser ke arah yang salah," kata Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft. "Iran perlu mengakui bahwa mereka tidak memiliki semua waktu di pihak mereka, meskipun mereka mungkin memiliki lebih banyak waktu daripada Trump."
Namun Iran juga tidak bisa bersantai sepenuhnya. Kelangsungan hidup jangka panjang rezim bergantung pada pencabutan sanksi—sesuatu yang hanya bisa diperoleh melalui kesepakatan.
Dan eskalasi lebih lanjut dari pihak AS—misalnya operasi perebutan pulau yang tampaknya makin dekat, seiring kedatangan ribuan Marinir dan lebih dari seribu pasukan lintas udara di kawasan dapat menutup semua pintu negosiasi.
"Itu sangat jauh dari jalan keluar. Sepertinya hampir pasti akan ada periode eskalasi," kata Ian Bremmer, presiden Eurasia Group.
Kontes pengaruh, bukan perang kekalahan total
Satu bulan ke dalam konflik, gambaran yang muncul bukanlah perang menuju kemenangan tegas salah satu pihak. Ini adalah kontes pengaruh—di mana kedua pihak memiliki keunggulan masing-masing, dan keduanya belum sepenuhnya memainkan kartunya.
AS memiliki kekuatan militer yang tak tertandingi, tetapi terikat oleh konsekuensi ekonomi, risiko korban jiwa, dan batasan-batasan politik yang membuat setiap opsi eskalasi datang dengan harga yang sangat tinggi.
Iran tidak memiliki kapasitas untuk mengalahkan AS secara militer, tetapi dengan menutup Selat Hormuz, ia telah menyandera ekonomi global, dan dengan itu, membangun tekanan yang tidak proporsional terhadap Washington.
Pada akhirnya, leverage hanya bernilai jika berhasil menghasilkan kemenangan strategis. Kegagalan kedua pihak untuk menawarkan jalan keluar yang dapat diterima satu sama lain tidak hanya akan memperpanjang krisis ini tetapi berpotensi membawa seluruh kawasan, dan ekonomi dunia, menuju bencana yang jauh lebih besar.




0Komentar