![]() |
| Aktivitas pertanian berupa penyemaian benih atau persiapan lahan yang dilakukan oleh dua traktor biru di sebuah ladang. | Sputnik/Vitaly Timkiv |
Kekhawatiran utama Moskwa tertuju pada titik nadi perdagangan global di Selat Hormuz. Jalur pelayaran sempit yang berbatasan dengan Iran ini merupakan rute krusial bagi sepertiga perdagangan pupuk dunia. Penutupan sebagian jalur tersebut akan menyumbat distribusi nutrisi tanaman yang menyokong produksi separuh bahan pangan global.
Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Alexander Maslennikov, menekankan bahwa perluasan kerja sama dengan negara-negara mitra menjadi harga mati di tengah ketidakpastian geopolitik ini.
"Untuk memastikan ketahanan pangan, sangat penting untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara bersahabat, terutama negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia dan BRICS, termasuk melalui pembentukan cadangan pangan bersama," ujar Maslennikov sebagaimana dikutip kantor berita domestik Rusia.
Maslennikov memproyeksikan skenario buruk jika kelangkaan pupuk terus berlanjut hingga awal musim panas. Menurutnya, hasil panen komoditas utama terancam anjlok hingga 50%, yang berujung pada lonjakan inflasi pangan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dikhawatirkan mendorong angka kelaparan global mencapai rekor 673 juta jiwa.
Lembaga keuangan internasional mulai dari Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), hingga Program Pangan Dunia PBB (WFP) sebelumnya telah mengirim sinyal serupa. Perang di Timur Tengah memantik kenaikan harga minyak, gas alam, dan pupuk yang secara otomatis mengerek harga pangan di pasar internasional.
Meski kapasitas produksinya saat ini sudah maksimal, Rusia yang memegang status sebagai eksportir gandum terbesar sekaligus produsen pupuk utama dunia, mulai melirik peluang jangka panjang. Mereka membidik peningkatan ekspor pertanian hingga 50% pada 2030.
"Rusia berada dalam posisi yang kuat untuk meningkatkan ekspor pangan ke negara-negara di Timur Tengah, serta ke Asia, Afrika, dan Amerika Serikat," tutur Maslennikov.
Inisiatif cadangan pangan ini memperkuat fondasi koordinasi pertanian yang telah dibangun di dalam blok BRICS. Sebelumnya, Rusia juga telah mengusulkan pembentukan bursa komoditas biji-bijian BRICS yang mendapat lampu hijau dari para menteri pertanian anggota blok tersebut pada 2024.
Struktur baru ini nantinya akan melibatkan pemain-pemain kunci. Mesir tetap menjadi pelanggan setia gandum Rusia, sementara China dan India terus memperbesar serapan ekspor pangan dari Negeri Beruang Merah tersebut. Di sisi lain, Uni Ekonomi Eurasia akan menyumbang kekuatan melalui Kazakhstan sebagai eksportir biji-bijian, bersama Belarus, Armenia, dan Kirgizstan.

0Komentar