![]() |
| Momen pertukaran uang kertas Rial Iran (IRR) di sebuah tempat penukaran valuta asing atau bank di Iran. |
Nilai tukar rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, menyentuh 1,8 juta per US$1 pada Rabu. Pelemahan tajam ini terjadi di tengah tekanan blokade laut oleh Amerika Serikat yang mengganggu ekspor minyak—sumber utama devisa Teheran—serta situasi geopolitik yang masih tegang.
Penurunan kurs berlangsung cepat dalam beberapa hari terakhir. Data yang dikutip Associated Press menunjukkan rial mulai tergelincir dua hari sebelum akhirnya menyentuh level terendah tersebut.
Blokade yang diberlakukan sejak 13 April terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman mempersempit arus perdagangan dan memperburuk pasokan dolar di dalam negeri.
Kondisi ini memperdalam tekanan ekonomi yang sudah berlangsung sepanjang tahun. Inflasi kebutuhan pokok melonjak tajam—roti dan sereal naik hingga 140% dalam setahun hingga Maret, sementara minyak dan lemak melonjak 219%. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Iran akan menyusut 6,1% pada 2026, dengan inflasi mencapai 68,9%.
Presiden AS Donald Trump menambah tensi dengan pernyataan terbuka di Truth Social. Ia mengklaim Iran telah menyampaikan kepada Washington bahwa negara itu berada dalam “kondisi kolaps” dan meminta AS untuk “membuka Selat Hormuz sesegera mungkin, sementara mereka berupaya mengatasi situasi kepemimpinan mereka”.
Pernyataan itu muncul setelah upaya negosiasi gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel kembali gagal pada akhir pekan. Rencana kunjungan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan juga dibatalkan.
Di dalam negeri, tekanan ekonomi memicu kekhawatiran akan gejolak sosial. Media Iran International melaporkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menggelar rapat darurat.
Dalam pertemuan itu, pejabat keamanan memperingatkan ekonomi hanya mampu bertahan enam hingga delapan minggu di bawah blokade saat ini, dengan potensi kehilangan hingga dua juta pekerjaan di sektor swasta sebelum akhir musim semi.
Situasi ini mengingatkan pada krisis mata uang pada Januari lalu, ketika rial merosot dari sekitar 1,4 juta ke 1,6 juta per dolar dalam waktu kurang dari sepekan. Pelemahan saat itu memicu aksi protes pedagang di Grand Bazaar Teheran dan demonstrasi luas yang kemudian berujung pada penindakan keras aparat.
Blokade AS kini memperketat tekanan. Sejumlah kapal dagang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran dilaporkan ditahan atau diblokir, termasuk setidaknya satu kapal kargo berbendera Iran yang disita. Gangguan ini mempersempit jalur logistik dan menghambat pasokan barang impor.
Pemerintah Iran merespons dengan mengaktifkan kembali kurs preferensial untuk impor barang penting seperti gandum, obat-obatan, dan susu formula bayi. Kebijakan ini menjadi sinyal tekanan berat terhadap daya beli masyarakat, di tengah ketergantungan tinggi pada barang impor yang dihargai dalam dolar AS.
Para ekonom memperingatkan pelemahan rial berpotensi mempercepat inflasi, terutama untuk kebutuhan dasar dan bahan baku industri yang bergantung pada impor.

0Komentar