Foto ini, yang diambil pada 26 Maret 2026, menunjukkan sebuah kapal tanker minyak sedang membongkar minyak mentah di pelabuhan Yantai, provinsi Shandong bagian timur Tiongkok. CN-STR/AFP


Departemen Keuangan Amerika Serikat memperluas tekanan terhadap Iran dengan menargetkan jaringan perbankan bayangan yang disebut memfasilitasi transaksi minyak bernilai miliaran dolar. Langkah ini menjadi bagian dari rangkaian sanksi baru dalam beberapa hari terakhir yang juga menyasar kilang minyak besar di China dan puluhan entitas pelayaran.

Langkah terbaru itu diumumkan Selasa, setelah sebelumnya pada Jumat AS menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., Ltd., salah satu kilang independen terbesar di China. Kilang tersebut dituduh membeli minyak mentah Iran dalam jumlah besar dan menjadi pelanggan penting bagi Teheran.

Departemen Keuangan melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) menyebut Hengli menerima pasokan minyak dari kapal-kapal yang tergabung dalam “armada bayangan” Iran, jaringan pengiriman yang dirancang untuk menghindari sanksi internasional. Sekitar 40 perusahaan pelayaran dan kapal ikut masuk dalam daftar sanksi.

OFAC memberikan masa transisi hingga 24 Mei untuk transaksi tertentu yang melibatkan unit Hengli di Dalian. Ini menjadi kali kelima kilang “teapot” China dikenai sanksi terkait perdagangan minyak Iran, namun dengan skala yang disebut paling besar sejauh ini.

Lin Jian, yang menjabat sebagai Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China. CGTN

Beijing langsung merespons keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut langkah tersebut tidak sah dan menolak legitimasi sanksi sepihak.

“China selalu menentang sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional,” ujarnya, seraya mendesak Washington menghentikan praktik yang dianggap sebagai penyalahgunaan yurisdiksi.

Hengli sendiri membantah tuduhan tersebut. Dalam pengajuan ke Bursa Efek Shanghai, perusahaan menyebut klaim AS “tidak berdasar” dan menyatakan telah menunjuk penasihat hukum untuk menggugat status sanksinya. Saham perusahaan sempat turun hingga 10% dalam perdagangan awal pekan.

Ketegangan ini muncul di tengah meningkatnya friksi antara China dan negara Barat terkait sanksi. Uni Eropa pada 23 April mengadopsi paket sanksi ke-20 terhadap Rusia, yang turut mencantumkan 27 entitas dari China dan Hong Kong. Beijing merespons dengan memasukkan tujuh perusahaan pertahanan Uni Eropa ke dalam daftar kontrol ekspornya.

Fokus terbaru Washington mengarah pada sistem keuangan alternatif Iran. Departemen Keuangan menetapkan 35 entitas dan individu yang disebut mengelola arsitektur perbankan bayangan—jaringan perusahaan swasta dan cangkang yang digunakan untuk memproses pembayaran minyak dan transaksi lain yang menghindari sanksi.

Jaringan ini disebut beroperasi atas nama berbagai institusi Iran, termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan National Iranian Oil Company.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan dampak luas dari keterlibatan dalam jaringan tersebut. “Setiap institusi yang memfasilitasi atau terlibat dengan jaringan ini berisiko menghadapi konsekuensi yang sangat berat,” katanya.

Target sanksi mencakup perusahaan yang terhubung dengan sejumlah bank Iran yang telah lebih dulu dikenai pembatasan, termasuk Bank Sepah dan Bank Melli, serta perusahaan cangkang di Hong Kong dan Inggris yang digunakan untuk memproses pembayaran.

Sejak Februari 2025, OFAC telah menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 1.000 individu, kapal, dan pesawat yang terkait dengan Iran dalam kampanye tekanan maksimum yang kembali digencarkan Washington.