![]() |
| Momen pertukaran uang kertas 100 Dolar AS dengan uang kertas 100.000 Rupiah Indonesia. |
Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia hingga akhir April 2026 setelah melemah 3,09% terhadap dolar Amerika Serikat secara year-to-date. Tekanan eksternal dan sentimen pasar yang memburuk mendorong pelemahan ini, meski sempat terjadi penguatan tipis dalam beberapa hari terakhir.
Data AsianBondsOnline menunjukkan posisi rupiah merosot di tengah eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta lonjakan harga minyak global. Kondisi ini menekan minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada perdagangan 23 April 2026, rupiah sempat menyentuh Rp17.308 per US$, level terlemah sepanjang sejarah. Pelemahan harian mencapai 0,79%, menjadi penurunan paling tajam sejak September 2025. Meski begitu, pada penutupan 28 April 2026, rupiah menguat tipis 0,33% ke Rp17.229 per US$, namun masih mencatatkan pelemahan signifikan secara bulanan.
Rupiah telah kehilangan lebih dari 3% nilainya sejak konflik AS-Iran memanas pada akhir Februari 2026. Posisi ini sempat menempatkan rupiah sebagai mata uang terburuk kedua di Asia setelah rupee India, sebelum akhirnya menjadi yang terlemah berdasarkan data terbaru per 27 April.
Tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai arah. Kepala ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan pelemahan ini merupakan hasil akumulasi risiko global dan domestik.
"hasil dari kombinasi tekanan yang datang bersamaan: risiko perang yang belum terselesaikan, tekanan minyak baru, kekhawatiran fiskal dan sovereign khusus Indonesia, serta posisi asing yang masih rapuh", ujarnya.
Lonjakan harga minyak memperberat tekanan, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor energi. Kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz turut menjaga harga minyak tetap tinggi.
Situasi diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur utama Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi, memicu volatilitas pasar global.
Bank Indonesia merespons dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 21–22 April 2026. Otoritas moneter juga menegaskan kesiapan untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya.
Sejak April, BI memperkuat berbagai instrumen stabilisasi, termasuk menaikkan ambang batas transaksi valas, memperkuat Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta meningkatkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali aliran modal asing.

0Komentar