![]() |
| Jalanan di New York pada saat natal pada 11 Novrmber 2011. | VECTEEZY/ANDREA IZZOTTI |
Di pusat Mexico City, jalanan tidak lagi rata. Jalan dan trotoar miring dan meliuk. Dua bangunan paling ikonik kota itu—Palacio de Bellas Artes dan Katedral Metropolitan—tampak perlahan-lahan amblas ke dalam bumi.
Sekitar 60% air minum kota berpenduduk 22 juta jiwa itu bersumber dari akuifer bawah tanah. Tapi akuifer itu sudah terkuras begitu parah hingga Mexico City kini ambles ke dalam tanah dengan kecepatan sekitar 50 sentimeter per tahun.
Ini bukan metafora. Ini yang terjadi ketika sebuah kota dan sebuah peradaban menarik lebih banyak dari yang bisa disediakan bumi.
Bumi diperkirakan tidak lagi mampu menopang jumlah penduduk manusia saat ini secara berkelanjutan. Studi terbaru yang terbit di jurnal Environmental Research Letters menyebut kapasitas ideal planet ini hanya sekitar 2,5 miliar orang—jauh di bawah populasi global yang kini mencapai sekitar 8,3 miliar.
Yang membuat temuan ini semakin mencolok adalah studi tersebut melibatkan Mathis Wackernagel dari University of California—ilmuwan yang justru menciptakan konsep ecological footprint, ukuran standar untuk mengukur tekanan manusia terhadap Bumi. Kesimpulan ini bukan datang dari luar sistem, melainkan dari orang yang membangun alat ukurnya sendiri.
Tim peneliti internasional menilai lonjakan populasi selama abad terakhir banyak ditopang oleh penggunaan bahan bakar fosil dalam skala besar. Ketergantungan ini, menurut mereka, telah menutupi tekanan nyata terhadap sumber daya alam dan memperpanjang kondisi yang sebenarnya sudah melampaui batas ekologis.
Ketika bahan bakar fosil menyangga populasi
Mekanismenya konkret: energi Revolusi Hijau sepenuhnya bertumpu pada bahan bakar fosil—gas alam untuk pupuk nitrogen sintetis, minyak untuk pestisida, bahan bakar untuk irigasi. Diperkirakan hampir separuh penduduk Bumi saat ini dapat makan karena pupuk nitrogen sintetis.
Lebih ironis lagi, sistem pangan global kini menghabiskan sekitar 10% lebih banyak energi untuk memproduksi makanan dibanding kalori yang terkandung dalam makanan itu sendiri—sistem yang berjalan defisit energi, ditopang seluruhnya oleh bahan bakar tak terbarukan.
Analisis tersebut dipimpin oleh ekolog Flinders University, Corey Bradshaw, yang menelaah lebih dari dua abad data populasi global dengan model pertumbuhan ekologis.
Hasilnya menunjukkan perubahan pola sejak pertengahan abad ke-20. Sebelum 1950-an, pertumbuhan populasi justru mempercepat inovasi dan pemanfaatan energi, yang kemudian mendorong ekspansi lebih lanjut.
Namun pola itu mulai berbalik pada awal 1960-an. Laju pertumbuhan populasi global menurun meski jumlah manusia terus bertambah.
Bayangan Ehrlich
Ada ironi sejarah yang tak bisa diabaikan di sini. Pada 1968—tepat ketika laju pertumbuhan populasi global mencapai puncaknya di angka 2,09% per tahun—ahli biologi Paul Ehrlich menerbitkan The Population Bomb, peringatan keras tentang bencana kependudukan yang akan datang.
Ironisnya, pertumbuhan populasi mulai melambat tepat setelah buku itu terbit, turun ke sekitar 1% pada 2018. Ehrlich dianggap salah, lalu dilupakan. Kini namanya muncul kembali sebagai salah satu kontributor studi Bradshaw, sebelum ia meninggal dunia. Argumen intinya, ternyata, belum selesai.
Bradshaw menjelaskan perubahan ini sebagai fase baru dalam dinamika demografi. "Pergeseran ini menandai awal dari apa yang kami sebut 'fase demografi negatif'," ujarnya. "Artinya, penambahan jumlah orang tidak lagi berujung pada pertumbuhan yang lebih cepat."
Populasi masih akan terus bertambah
Berdasarkan proyeksi tim, populasi dunia masih akan meningkat dan diperkirakan mencapai puncak antara 11,7 hingga 12,4 miliar orang pada kisaran 2060-an hingga 2070-an.
Kesenjangan antara angka tersebut dan batas berkelanjutan, menurut studi, hanya dapat dipenuhi melalui eksploitasi sumber daya yang semakin intensif.
"Bumi tidak dapat mengimbangi cara kita menggunakan sumber daya," kata Bradshaw. "Bumi tidak dapat mendukung bahkan permintaan saat ini tanpa perubahan besar."
Penelitian itu juga menyoroti kaitan langsung antara jumlah populasi dengan tekanan lingkungan. Total populasi disebut memiliki pengaruh lebih besar terhadap kenaikan suhu global, jejak ekologis, dan emisi karbon dibanding konsumsi per kapita semata.
Namun tidak semua sepakat dengan framing ini. Sejumlah demograf dan ekonom berpendapat bahwa polusi dan penipisan sumber daya lebih banyak didorong oleh ekstraksi dan konsumsi berlebihan, bukan semata jumlah kepala. Dalam pandangan ini, yang perlu diubah bukan seberapa banyak manusia, melainkan bagaimana mereka hidup.
Dampak nyata yang sudah terasa
Dampaknya tidak lagi soal proyeksi. Laporan Living Planet 2024 dari WWF mencatat populasi satwa liar di seluruh dunia turun rata-rata 73 persen sejak 1970. Menurut PBB, laju kepunahan spesies saat ini sudah puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi dibanding rata-rata 10 juta tahun terakhir—dan terus berakselerasi.
Para peneliti juga menyinggung potensi kesenjangan sosial yang kian melebar jika tekanan terhadap sumber daya terus berlanjut.
Studi ini melibatkan sejumlah ilmuwan dari berbagai institusi, termasuk University of Western Australia, University of Cambridge, dan University of California.
Tim penulis menegaskan bahwa temuan mereka bukan prediksi keruntuhan mendadak. Mereka mendorong pemerintah untuk mempercepat perubahan dalam sistem energi, penggunaan lahan, dan produksi pangan, seraya menekankan pentingnya kerja sama antarnegara.
"Jendela untuk bertindak semakin menyempit, tetapi perubahan bermakna masih dapat dicapai jika negara-negara bekerja sama," kata Bradshaw.
Paradoks demografi
Sementara itu, di ujung lain spektrum demografi, dunia menyaksikan paradoks yang tak kalah rumit.
Korea Selatan mencatat angka kelahiran terendah di dunia—rata-rata 0,72 anak per perempuan, jauh di bawah angka pengganti 2,1. Pemerintahnya telah menghabiskan hampir 300 miliar dolar untuk mendorong warganya memiliki lebih banyak anak, namun hasilnya minim.
Jepang menghadapi tantangan serupa: lebih sedikit pekerja untuk menanggung biaya lansia, dengan rasio yang diproyeksikan terus memburuk hingga 2050.
Dunia, tampaknya, sedang berlomba ke dua arah yang berlawanan sekaligus—sebagian besar masih menambah manusia yang tidak lagi bisa ditanggung planet ini, sebagian kecil lainnya sudah kehabisan manusia baru. Tidak ada yang tahu persis di mana titik seimbangnya.

0Komentar