Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Washington siap mengambil langkah militer untuk menyita stok uranium yang diperkaya milik Iran. Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dua minggu yang ditengahi Pakistan mulai berlaku, menandakan rapuhnya deeskalasi di Timur Tengah.
Tuntutan penyerahan material nuklir tersebut kini menjadi syarat mutlak AS dalam setiap kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama enam minggu. Konflik ini diperkirakan telah merenggut ribuan nyawa dan memicu guncangan pada pasar energi global.
Hegseth mengklaim intelijen AS telah mengunci koordinat pasti lokasi uranium tersebut, meski material itu tertanam jauh di bawah tanah. Berbicara di Pentagon bersama Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine, ia memberikan pilihan tegas kepada Teheran.
"Mereka akan menyerahkannya kepada kami secara sukarela. Atau jika kami perlu mengambil tindakan alternatif sendiri… kami tetap membuka opsi tersebut," ujar Hegseth sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal.
Ketegangan ini berakar pada estimasi stok nuklir Teheran yang sangat sensitif. Berdasarkan laporan The New York Times, hingga Juni 2025 Iran diperkirakan mengantongi sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian 60%. Level pengayaan ini dianggap para ahli hanya selangkah lagi menuju ambang batas senjata nuklir.
Kondisi fasilitas nuklir Iran sendiri saat ini dalam kondisi rusak berat akibat Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025. Serangan yang melibatkan pesawat pengebom siluman B-2 tersebut menyasar situs-situs strategis di Fordow, Natanz, dan Isfahan menggunakan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon.
"Misi ini sesungguhnya tidak akan mungkin terlaksana tanpa Midnight Hammer, tanpa apa yang dilakukan B-2 tersebut—menjelajahi wilayah dan menghancurkan fasilitas-fasilitas itu," tutur Hegseth menjelaskan landasan posisi tawar AS saat ini.
Di Washington, tekanan politik juga datang dari Capitol Hill. Senator Lindsey Graham mendorong pemerintah untuk menerapkan "model Libya," merujuk pada pembongkaran total infrastruktur nuklir secara paksa dan pengiriman materialnya ke luar negeri. Ia menegaskan bahwa setiap ons dari total 900 pon uranium tersebut harus berada di bawah kendali AS.
Presiden Trump melalui unggahan di media sosial menyatakan komitmennya untuk mengamankan apa yang ia sebut sebagai "Debu Nuklir" sisa pengeboman. Trump memperingatkan bahwa material tersebut berada dalam pantauan satelit yang ketat dan akan segera diserang kembali jika ada upaya pemindahan sepihak oleh Iran.
Delegasi dari kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad pada hari Jumat untuk membahas proposal tandingan Iran yang tetap menyertakan hak pengayaan uranium.
Meski retorika di Pentagon sangat agresif, sejumlah pejabat militer AS mengakui bahwa penyitaan fisik material tersebut di lapangan akan menjadi operasi yang sangat kompleks dan berisiko tinggi, yang berpotensi memerlukan pengerahan pasukan darat dalam skala besar.

0Komentar