Sebuah kapal barang atau cargo ship berukuran besar yang sedang berada di laut lepas. EPA

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk satuan tugas darurat untuk mempercepat pengiriman pupuk global setelah penutupan Selat Hormuz mengganggu pasokan di tengah musim tanam Belahan Bumi Utara.

Langkah ini diambil saat jalur strategis antara Iran dan Semenanjung Arabia tersebut praktis lumpuh sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas pada akhir Februari. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia bergantung pada selat itu, menjadikannya titik krusial dalam rantai pasok pangan global.

Gangguan di Selat Hormuz langsung memukul distribusi pupuk internasional. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat 20% hingga 45% input agri-pangan esensial bergantung pada jalur laut tersebut.

Harga pun melonjak tajam. Urea—pupuk nitrogen yang paling banyak diperdagangkan—naik 47% sejak akhir Februari. Biaya gabungan bahan bakar dan pupuk bagi petani meningkat 20% hingga 40%.

Tekanan ini terasa hingga tingkat petani. Survei American Farm Bureau Federation terhadap lebih dari 5.700 petani menunjukkan 70% responden tidak mampu membeli seluruh kebutuhan pupuk musim ini.

Pembatasan pasokan memperburuk situasi. China, produsen pupuk terbesar dunia, menahan ekspor untuk memenuhi kebutuhan domestik. Di sisi lain, fasilitas produksi Rusia dilaporkan sudah mendekati kapasitas maksimum.

Negara berkembang paling rentan

Dampak paling besar diperkirakan terjadi di Afrika dan Asia Selatan, wilayah yang sangat bergantung pada pasokan pupuk dari kawasan Teluk.

Ethiopia menjadi salah satu contoh. Negara itu memperoleh lebih dari 90% pupuk nitrogennya dari kawasan tersebut, membuatnya sangat rentan terhadap gangguan distribusi.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, mengingatkan krisis ini berpotensi meluas menjadi masalah yang lebih besar. Ia menyebut gangguan berkepanjangan bisa berkembang menjadi "bencana agri-pangan global".

Peringatan serupa disampaikan Jorge Moreira da Silva, yang memimpin satuan tugas PBB untuk pengiriman pupuk sekaligus menjabat kepala UN Office for Project Services. Ia menilai waktu menjadi faktor penentu.

"Ini sudah jelas terlihat. Kita sedang menyaksikan datangnya krisis kemanusiaan yang sangat besar," kata Moreira da Silva kepada UN News.

Ia menyebut satuan tugas yang dibentuk PBB dapat mengoperasikan "platform terpadu" untuk mendaftarkan, memantau, dan memverifikasi pengiriman pupuk dalam tujuh hari, jika akses pelayaran di Selat Hormuz dibuka kembali.

Ancaman meluas ke ketahanan pangan

PBB memperkirakan tanpa intervensi cepat, lebih dari 45 juta orang berisiko jatuh ke dalam kondisi rawan pangan.

FAO mendesak negara-negara untuk meninjau ulang kebijakan bahan bakar nabati serta menghindari pembatasan ekspor energi dan pupuk. Lembaga itu juga meminta dukungan pembiayaan darurat dari institusi multilateral seperti Dana Moneter Internasional bagi negara yang terancam kehilangan akses pupuk.

Di lapangan, petani mulai menyesuaikan strategi. Di AS, petani yang belum mengamankan pupuk sejak musim gugur terpaksa membeli dengan harga tinggi atau mengurangi luas tanam. Di Australia, petani gandum dilaporkan mulai memangkas areal pertanian mereka.

Ekonom FAO, David Laborde, menilai situasi saat ini masih berada di fase kritis.

"Kita sedang menghadapi krisis input — kita tidak ingin ini berubah menjadi bencana," ujarnya. "Perbedaannya bergantung pada langkah-langkah yang kita ambil."