Drone pengintai Orlan-10 buatan Rusia tampak tengah dipersiapkan oleh personel militer. TASS


Hanya dalam satu bulan pada Agustus 2025 Tiongkok mengekspor kabel serat optik sepanjang 528.000 kilometer ke Rusia, rekor tertinggi sepanjang masa. Bersamaan dengan itu, baterai lithium-ion senilai sekitar US$47 juta juga mengalir ke Moskwa. 

Angka-angka itu, yang pertama kali dilaporkan Washington Post pada Oktober 2025, memberi gambaran konkret tentang seberapa dalam keterlibatan Beijing dalam menjaga mesin perang Rusia tetap berputar di Ukraina.

Komponen-komponen itu bukan komoditas biasa. Kabel serat optik dan baterai lithium adalah nyawa dari generasi terbaru drone serang Rusia — termasuk drone berpemandu serat optik yang dirancang tahan terhadap sistem perang elektronik Ukraina. Sepanjang 2024–2025, drone-drone inilah yang sempat memberi Rusia keunggulan teknologi di lapangan.

Puing drone Rusia yang jatuh di wilayah Ukraina diperiksa oleh polisi setempat. Press service of the National Police of Ukraine

Kepala badan intelijen Ukraina menyatakan bahwa per awal 2025, 80% komponen elektronik kritis yang ditemukan dalam drone-drone Rusia berasal dari Tiongkok. Angka itu bukan tuduhan politik — ia hasil forensik dari puing-puing drone yang berhasil dijatuhkan pasukan Ukraina.

Temuan ini memperkuat laporan dari The Diplomat yang mencatat bahwa pasokan serat optik Tiongkok secara langsung memungkinkan Rusia memperluas produksi amunisi loitering dan drone FPV (first-person view) generasi baru. Ukraina pun terpaksa berjuang keras mencari pembalasnya.

Rusia makin bergantung

Hubungan Moskwa–Beijing tidak selalu seperti ini. Selama beberapa dekade, Rusia memandang Tiongkok sebagai mitra yang setara atau setidaknya sebanding. Kini, data ekonomi membantah persepsi itu.

Pada 2025, PDB nominal Rusia diproyeksikan sebesar US$2,135 triliun, sementara Tiongkok mencapai US$21,643 triliun. IMF bahkan mencatat bahwa Tiongkok sudah melampaui Rusia dalam PDB per kapita sejak 2020. Asia Society menyebut Moskwa kini tak lebih dari "mitra junior" Beijing — sebuah frasa yang kian sulit dibantah.

Ketidakseimbangan itu juga terbaca dari struktur dagang keduanya. Tiongkok menyumbang 30% ekspor barang Rusia dan 50% impornya. Sebaliknya, Rusia hanya merepresentasikan 3% ekspor dan 5% impor Tiongkok. Bagi Rusia, Tiongkok adalah tumpuan hidup. Bagi Tiongkok, Rusia hanya satu dari sekian banyak mitra.

Ketergantungan itu pun tak datang gratis. Sebuah laporan dari Bank of Finland Institute menemukan bahwa harga median yang dibayar Rusia untuk produk-produk berteknologi yang dikenai sanksi dari Tiongkok melonjak 87% antara 2021 dan 2024 — jauh di atas kenaikan 9% dari negara-negara lain. Seperti ditulis Fortune, Moskwa membayar premi tinggi untuk kesetiaan Beijing.

"Tanpa Batas" — tapi penuh kalkulasi

Pada 4 Februari 2022 tepat tiga pekan sebelum tank Rusia menyerbu Ukraina Putin terbang ke Beijing. Ia dan Xi Jinping mendeklarasikan kemitraan "no limits", sebuah ikatan yang diklaim melampaui aliansi militer era Perang Dingin.

pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 16 Mei 2024. XINHUA

Kenyataannya, "tanpa batas" itu punya hitungannya sendiri.

Di PBB, Tiongkok memilih abstain dalam pemungutan suara yang mengecam invasi Rusia pada Februari 2022, lalu berbalik menentang resolusi kecaman pada Desember 2023. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terlibat dalam ekspor teknologi dual-use ke Rusia telah disanksi oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Ukraina.

Menurut European Union Institute for Security Studies, setiap dimensi hubungan Tiongkok dengan Rusia dikalibrasi untuk memaksimalkan keuntungan strategis dan ekonomi Beijing termasuk kehati-hatian di ranah multilateral agar citra globalnya tak tercoreng terlalu dalam.

Sesekali, posisi diam Beijing itu terbuka.

Dalam pertemuan dengan Wakil Presiden Komisi Eropa Kaja Kallas pada Juli 2025, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyatakan bahwa Beijing tidak ingin melihat Rusia kalah di Ukraina. 

Para diplomat Eropa mencatat bahwa Wang Yi secara eksplisit mengaitkan hal itu dengan kekhawatiran bahwa jika konflik di Eropa berakhir, AS akan mengalihkan seluruh fokusnya ke Tiongkok.

Pernyataan itu membuka kalkulasi Beijing yang sebenarnya: selama Rusia terus bertempur, perhatian dan sumber daya Barat tersedot ke Eropa memberi Tiongkok ruang lebih luas di Indo-Pasifik.

Skenario yang paling ditakuti NATO

Dari sinilah kalkulasi NATO bergeser dari urusan Eropa menjadi krisis global.

Mark Rutte menyampaikan pidato utama pada Konferensi Keamanan Munich di Berlin. REUTERS/ANNEGRET HILSE

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte secara terbuka menyatakan bahwa jika Xi Jinping memutuskan menyerang Taiwan, ia akan lebih dulu menelepon Putin dan memintanya untuk "menyibukkan Barat di Eropa dengan menyerang wilayah NATO." Rutte menyebut momen geopolitik saat ini sebagai "masa paling berbahaya sejak akhir Perang Dunia II."

Skenario dua front itu bukan sekadar spekulasi. Sebuah studi dari Center for a New American Security menyimpulkan bahwa jika konflik pecah di Pasifik, aset militer AS di Eropa termasuk sistem Patriot, drone, kapal perang kemungkinan besar akan ditarik ke Indo-Pasifik, meninggalkan NATO dalam posisi rentan.

Mantan perwira tinggi Australia Mayor Jenderal Mick Ryan mempertegas risiko itu. "Jika Tiongkok memutuskan bahwa aneksasi Taiwan secara paksa adalah satu-satunya pilihan mereka, mereka akan melakukan segala yang bisa untuk memastikan Eropa dan Amerika menghadapi sebanyak mungkin tantangan yang tersebar," kata Ryan kepada The Kyiv Independent.

Di tengah semua itu, harga perang bagi Rusia terus menanjak.

Menurut estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), pasukan Rusia menderita hampir 1,2 juta korban — tewas, terluka, dan hilang — antara Februari 2022 hingga Desember 2025. Pada 2025 saja, sekitar 415.000 prajurit Rusia menjadi korban, rata-rata hampir 35.000 per bulan.

Untuk memberi perspektif sejarah: korban Rusia di Ukraina sudah lima kali lebih banyak dibandingkan seluruh perang Rusia dan Soviet gabungan antara akhir Perang Dunia II hingga awal 2022 — kurun waktu 77 tahun.

Namun mesin perang itu tetap bergerak. Menurut laporan Intereconomics, kemampuan Rusia mempertahankan operasinya sangat bergantung pada dukungan Tiongkok terutama dalam menghindari sanksi dan mengakses teknologi kritis. Tanpa itu, Rusia akan kesulitan membiayai perang maupun mengamankan bahan yang dibutuhkan.

Hubungan asimetris yang terus berjalan

Tidak semua analis memandang hubungan ini sebagai dominasi penuh Beijing atas Moskwa.

Atlantic Council mencatat bahwa Rusia memang belum menjadi bawahan Beijing setidaknya belum pada titik di mana ia akan menyerang wilayah NATO semata-mata demi mengalihkan perhatian Aliansi dari konflik di Taiwan. Namun posisi sebagai "mitra junior" dalam kemitraan no limits ini sulit dibantah.

European Union Institute for Security Studies juga mengingatkan bahwa hubungan Tiongkok–Rusia solid tapi bukan tidak bisa bergeser. 

Data menunjukkan bahwa Beijing tetap responsif terhadap tekanan sanksi ketika sanksi itu benar-benar menyentuh kepentingan ekonominya — sebuah tuas yang menurut para analis belum sepenuhnya dimanfaatkan Barat.

Presiden Finlandia Alexander Stubb, yang negaranya baru bergabung dengan NATO pada 2023 setelah puluhan tahun menjaga jarak dari aliansi itu, menyatakan dengan gamblang bahwa tanpa integrasi Ukraina ke dalam Uni Eropa dan NATO, keamanan kawasan tak akan pernah benar-benar terjamin. 

Di lapangan, dengan ratusan ribu tentara Rusia masih mengokupasi wilayah Ukraina, kemenangan militer definitif tampak jauh dari jangkauan jangka pendek — dan NATO kini mulai bersiap untuk kemungkinan konflik panjang yang bisa membayangi dua dekade ke depan.