Spanduk yang mempromosikan KTT BRICS ke-15 yang diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada tahun 2023. | AP PHOTO


Blok BRICS+ kini menguasai 17,4% cadangan emas bank sentral global, sebuah lonjakan tajam dari angka 11,2% pada 2019. Laporan pasar terbaru dari EBC Financial Group mengungkapkan bahwa negara-negara anggota blok ini secara kolektif telah menimbun lebih dari 6.000 ton emas batangan, seiring dengan upaya mereka mengamankan aset di luar sistem keuangan Barat.

Langkah ini dipicu oleh pembekuan cadangan devisa Rusia senilai US$300 miliar oleh negara-negara Barat setelah invasi ke Ukraina pada 2022. Peristiwa tersebut memberikan pesan kuat bagi banyak negara bahwa aset yang disimpan dalam sistem keuangan asing rentan terhadap penyitaan politik. Sebaliknya, emas yang tersimpan di brankas domestik tidak terjangkau oleh sanksi jaringan pembayaran SWIFT.

Rusia dan Tiongkok menjadi motor utama dalam akumulasi ini, dengan total kepemilikan gabungan mencapai 74% dari seluruh cadangan emas kelompok tersebut. 

Moskwa memimpin dengan 2.336 ton, disusul Tiongkok dengan 2.298 ton, dan India sebesar 880 ton. Agresivitas ini terlihat jelas dalam catatan World Gold Council yang menyebutkan bahwa bank sentral BRICS+ menyumbang lebih dari separuh seluruh pembelian emas berdaulat global sepanjang 2020 hingga 2024.

Tren ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada 2025. Hanya dalam sembilan bulan pertama tahun ini, BRICS+ telah menambah 663 ton emas senilai sekitar US$91 miliar. Brasil bahkan kembali aktif di pasar dengan menambah 16 ton pada September 2025, pembelian pertamanya sejak 2021. 

Secara global, pembelian emas oleh bank sentral secara konsisten melampaui 1.000 ton per tahun sejak titik balik pada 2022. "Pergeseran dari cadangan dolar ke emas bukan sekadar prediksi, melainkan sebuah tren," tulis laporan EBC Financial Group

Mereka menekankan bahwa fenomena ini didukung oleh data tiga tahun dari lebih 40 bank sentral yang telah memindahkan lebih dari 3.000 ton logam mulia ke brankas kedaulatan mereka.

Dominasi dolar AS pun mulai terkikis secara bertahap. Data IMF menunjukkan cadangan devisa global berdenominasi dolar turun menjadi 56,8% pada kuartal keempat 2025, level terendah dalam tiga dekade terakhir. Penurunan ini terjadi bukan karena aksi jual aset dolar secara masif, melainkan karena pertumbuhan cadangan yang lebih cepat dalam bentuk euro, yen, emas, serta mata uang non-tradisional lainnya.

Meningkatnya porsi emas dalam aset cadangan resmi—dari di bawah 10% pada 2015 menjadi lebih dari 23% saat ini—mencerminkan pergeseran paradigma keamanan finansial. Berdasarkan survei World Gold Council tahun 2025, sekitar 73% bankir sentral di seluruh dunia memproyeksikan porsi dolar akan terus menyusut dalam lima tahun ke depan.

Meskipun harga emas berulang kali mencetak rekor tertinggi, permintaan tetap solid. Pada 2025, total pembelian emas oleh bank sentral mencapai 863 ton, dengan Polandia muncul sebagai pembeli tunggal terbesar melalui penambahan 102 ton. Fenomena ini mengukuhkan posisi emas sebagai instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berkepanjangan.