Pasukan Sementara PBB Di Lebanon, pengangkut personel lapis baja meninggalkan pangkalan untuk berpatroli di dekat perbatasan Lebanon-Israel.


Israel memutus seluruh hubungan pengadaan pertahanan dengan Prancis di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik yang dipicu insiden antara militer Israel dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon selatan.

Langkah tersebut diumumkan Kementerian Pertahanan Israel dengan menghentikan seluruh pembelian dari Prancis dan menggantinya dengan produksi dalam negeri atau pemasok dari negara sekutu. Otoritas pertahanan Israel juga menyatakan tidak akan ada lagi keterlibatan profesional baru dengan militer Prancis, serta membatalkan kunjungan pejabat Paris yang sebelumnya dijadwalkan.

Ketegangan ini berkembang cepat setelah serangkaian insiden pada akhir Maret di wilayah Naqoura, Lebanon selatan, yang melibatkan kontingen Prancis dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Tiga insiden dilaporkan terjadi pada 28 Maret, memperburuk hubungan yang sebelumnya sudah sensitif.

Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, utusan Prancis Jerome Bonnafont menuding pasukan Israel menunjukkan perilaku agresif terhadap personel UNIFIL. Ia menyebut adanya tindakan yang membahayakan keselamatan pasukan, termasuk dugaan pengacungan senjata ke arah Kepala Staf UNIFIL Jenderal Paul Sanzey.

Bonnafont mendesak adanya “jaminan yang segera dan konkret” dari Israel, serta meminta Dewan Keamanan bergerak melampaui sekadar kecaman.

Tekanan terhadap Israel juga datang dari pejabat pemerintah Prancis. Menteri Angkatan Darat Junior Prancis Alice Rufo menyebut pasukan negaranya menghadapi intimidasi yang tidak bisa diterima selama bertugas di Lebanon.

“Saya ingin menyampaikan pesan solidaritas kepada tentara kami, yang telah menjadi sasaran intimidasi yang sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Rufo dalam konferensi War & Peace di Paris setelah kembali dari Lebanon.

Pernyataan itu muncul di tengah duka atas tewasnya tiga penjaga perdamaian Indonesia dalam dua serangan terpisah pada 29 dan 30 Maret. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyebut insiden tersebut “tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan,” sekaligus mengecam tekanan terhadap kontingen Prancis.

Israel membantah tuduhan tersebut. Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyalahkan kelompok Hizbullah atas kematian para penjaga perdamaian dan menuding Prancis menerapkan standar ganda dalam kebijakannya terhadap Iran dan Hizbullah.

Retaknya hubungan ini juga dipicu isu lain di luar lapangan. Prancis sebelumnya menolak memberikan izin bagi pesawat Amerika Serikat yang membawa amunisi menuju Israel untuk melintasi wilayah udaranya. Paris juga membatasi partisipasi Israel dalam pameran pertahanan di negaranya.

UNIFIL saat ini menempatkan sekitar 7.500 personel di Lebanon selatan. Misi tersebut dijadwalkan berakhir pada akhir 2026, dengan penarikan penuh pasukan pada 2027 sesuai keputusan Dewan Keamanan PBB.