Korea Utara disebut sengaja menjaga jarak dari Iran sejak pecahnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, langkah yang dinilai sebagai upaya membuka ruang dialog dengan Washington.
Informasi itu disampaikan National Intelligence Service (NIS) Korea Selatan kepada parlemen pada Senin, sebagaimana dikutip anggota parlemen Park Sun-won. Pyongyang dilaporkan menahan pengiriman senjata, logistik, hingga gestur diplomatik kepada Teheran sejak operasi militer dimulai pada 28 Februari.
Sikap tersebut kontras dengan hubungan lama kedua negara yang kerap terhubung dalam kerja sama militer dan politik. Dalam periode konflik yang kini memasuki pekan keenam, Korea Utara juga tidak mengeluarkan pernyataan belasungkawa atas kematian Ayatollah Ali Khamenei maupun ucapan selamat kepada penggantinya, Mojtaba Khamenei.
NIS menilai keheningan ini bukan kebetulan. Pyongyang disebut sedang mengatur ulang posisi untuk menjaga peluang komunikasi dengan Donald Trump, yang dalam beberapa bulan terakhir tidak menjadi sasaran kritik langsung dari pemerintah Korea Utara.
Kementerian Luar Negeri Korea Utara tercatat hanya merilis dua pernyataan bernada relatif lunak terkait konflik tersebut. Ini berbeda dari reaksi awal pada akhir Februari, ketika Pyongyang menyebut serangan AS-Israel sebagai tindakan “tak tahu malu dan seperti gangster”.
Di tengah itu, dinamika diplomatik global ikut membentuk kalkulasi Korea Utara. Pertemuan antara Xi Jinping dan Trump yang dijadwalkan pada 14–15 Mei di Beijing dipandang sebagai momentum penting. NIS menilai Pyongyang ingin berada dalam posisi tawar baru setelah pertemuan tersebut.
Pada Kongres Partai Buruh Korea Utara akhir Februari, Kim Jong Un memberi sinyal terbuka terhadap kemungkinan dialog. Ia menyatakan tidak ada alasan Korea Utara dan AS “tidak bisa bergaul dengan baik” jika Washington mengakui status nuklir Pyongyang dan menghentikan kebijakan permusuhan.
“Pernyataan itu dilihat sebagai sinyal yang disengaja untuk menjaga hubungan dengan Trump,” kata Park, merujuk pada penilaian NIS.
Tekanan ekonomi juga menjadi faktor. Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan industri, mendorong kenaikan harga, serta menekan nilai tukar di Korea Utara. Pyongyang dilaporkan berupaya mengamankan pasokan minyak dari Rusia seiring terganggunya arus energi global.
Penutupan Selat Hormuz memicu guncangan pasar energi internasional dan memperbesar dampaknya ke negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Korea Utara.

0Komentar