Sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) ditarik menuju pembangkit listrik termal di Futtsu, timur Tokyo, Jepang 13 November 2017. | REUTERS/Issei Kato


Para menteri luar negeri negara anggota ASEAN dijadwalkan menggelar pertemuan virtual khusus pada 10 April untuk merespons krisis Timur Tengah yang kian memicu tekanan energi dan ekonomi di Asia Tenggara. Pertemuan ini diprakarsai Filipina selaku ketua ASEAN 2026 setelah konsultasi antarnegara anggota mengenai perlunya langkah kolektif.

Agenda tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak laut global. 

Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat bagi Teheran untuk membuka kembali selat itu hingga Selasa (7/4) pukul 8 malam, disertai ancaman serangan terhadap infrastruktur strategis Iran.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menulis, "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semua digabung jadi satu, di Iran," menegaskan tekanan yang terus meningkat menjelang batas waktu tersebut.

Krisis ini segera menjalar ke Asia Tenggara. Kawasan tersebut mengimpor sekitar 56% minyak mentah dari Timur Tengah, dengan sejumlah negara hanya memiliki cadangan energi untuk 20 hingga 50 hari, menurut Economic Research Institute for ASEAN and East Asia. Lonjakan harga minyak yang menembus US$112 per barel pada awal April mempersempit ruang gerak kebijakan energi di kawasan.

Filipina telah menetapkan darurat energi nasional. Thailand memperluas kapasitas kilang sekaligus membatasi ekspor produk petroleum. Vietnam mempertimbangkan penghentian ekspor minyak mentahnya. Sejumlah negara juga mulai menerapkan kebijakan kerja jarak jauh dan pekan kerja empat hari untuk menekan konsumsi bahan bakar.

Pertemuan 10 April merupakan kelanjutan dari sesi darurat yang digelar 13 Maret, saat para menteri luar negeri ASEAN menyerukan penahanan diri dan perlindungan warga sipil setelah eskalasi konflik yang dipicu serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Fokus pembahasan kini bergeser ke langkah konkret. Laporan Thai PBS World menyebut para menteri akan menyoroti pengamanan rantai pasok, diversifikasi sumber energi, dan penguatan kerja sama intra-ASEAN untuk meredam dampak ekonomi.

Di luar kawasan, upaya diplomatik terus berlangsung. Pejabat regional yang dikutip Associated Press menyebut mediator dari Pakistan, Turki, dan Mesir berusaha mempertemukan kembali AS dan Iran ke meja perundingan di tengah tekanan tenggat waktu yang semakin dekat.