Pasukan Israel menghancurkan 17 kamera pengawas milik misi penjaga perdamaian PBB (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) di Naqura, Lebanon selatan, dalam rentang 24 jam. Insiden ini terjadi di tengah rangkaian kejadian yang menimpa personel UNIFIL, termasuk tiga prajurit Indonesia yang terluka akibat ledakan di fasilitas PBB awal April.
Penghancuran perangkat pemantauan tersebut menambah ketegangan di wilayah yang sejak beberapa pekan terakhir mengalami eskalasi operasi militer Israel. Aktivitas di sepanjang perbatasan Lebanon selatan meningkat, dengan laporan pembongkaran infrastruktur sipil di sejumlah kota pesisir dan desa perbatasan.
Seorang pejabat keamanan PBB yang berbicara kepada AFP menyebut tindakan tersebut berdampak langsung pada kemampuan pemantauan misi. “17 kamera markas kami telah dihancurkan oleh tentara Israel,” ujarnya.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, sebelumnya juga menggambarkan intensitas aktivitas militer di lapangan. Ia mengatakan pasukan penjaga perdamaian menyaksikan “tentara Israel melakukan pembongkaran sebagian besar” kota sejak awal pekan.
“Pembongkaran ini tidak hanya menghancurkan rumah-rumah dan bisnis warga sipil, tetapi kekuatan ledakan juga menyebabkan kerusakan pada markas besar UNIFIL,” tambahnya.
Di saat yang sama, risiko terhadap personel penjaga perdamaian meningkat. Tiga prajurit Indonesia terluka pada 3 April setelah ledakan yang belum diketahui asalnya menghantam pos PBB. Dua di antaranya mengalami luka berat. Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut kejadian ini sebagai “insiden serius ketiga” dalam waktu kurang dari sepekan.
Rangkaian korban terjadi beruntun sejak akhir Maret. Tiga prajurit Indonesia gugur dalam dua insiden terpisah pada 29 dan 30 Maret. Salah satu korban tewas akibat ledakan proyektil di posisi UNIFIL, sementara dua lainnya meninggal setelah kendaraan mereka hancur oleh ledakan di pinggir jalan.
Dewan Keamanan PBB mengecam serangan tersebut dan menyerukan semua pihak menghormati keselamatan personel penjaga perdamaian. Indonesia mendesak forum itu segera menggelar pertemuan dengan negara-negara kontributor pasukan untuk meninjau situasi dan memperkuat perlindungan di lapangan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, media Israel melaporkan rencana militer untuk membentuk zona penyangga permanen hingga tiga kilometer ke wilayah Lebanon dengan menghancurkan desa-desa di sepanjang perbatasan.

0Komentar