Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara selama sesi parlemen di Majelis Rakyat Tertinggi, yang diadakan pada 20-21 September di Pyongyang, Korea Utara. | KCNA

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk pertama kalinya secara terbuka mengonfirmasi bahwa pasukannya yang bertempur bersama Rusia di Ukraina menjalankan kebijakan bunuh diri untuk menghindari penangkapan. 

Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah acara resmi di Pyongyang, menandai pengakuan langsung atas praktik yang sebelumnya hanya dilaporkan oleh intelijen dan media asing.

Pengakuan tersebut muncul di tengah semakin terbukanya keterlibatan militer Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina. 

Sejak akhir 2024, pasukan Pyongyang dilaporkan dikirim untuk mendukung operasi Moskwa, terutama di wilayah Kursk. Pemerintah Korea Selatan memperkirakan sekitar 15.000 tentara telah dikerahkan, dengan ribuan korban jiwa dan luka.

‘Pahlawan yang memilih meledakkan diri’

Dalam pidato yang dilaporkan Korean Central News Agency (KCNA) dan dikutip Bloomberg, Kim menggambarkan para tentara yang tewas sebagai figur heroik yang memilih kematian daripada ditangkap musuh.

“Mereka adalah pahlawan yang tanpa ragu memilih untuk meledakkan diri, serangan bunuh diri, demi mempertahankan kehormatan yang agung,” ujar Kim.

Ia menambahkan, “Mereka tidak mengharapkan imbalan apa pun, meski telah melakukan jasa-jasa yang luar biasa. Mereka gugur dengan kematian yang heroik.”

Pernyataan itu disampaikan saat peresmian Museum Memorial Operasi Militer Luar Negeri di Pyongyang pada 26 April. Acara tersebut juga dihadiri Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov serta keluarga tentara Korea Utara yang tewas.

Laporan sebelumnya dari Independent menyebut hanya dua tentara Korea Utara yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh Ukraina sejak keterlibatan mereka terdeteksi. Salah satu di antaranya dilaporkan mencoba melukai diri sendiri setelah tertangkap dalam kondisi terluka.

Aliansi militer kian erat

Kim menyebut keterlibatan tersebut sebagai bagian dari hubungan strategis baru dengan Rusia. Ia menggambarkannya sebagai “sejarah baru persahabatan dengan Rusia yang ditulis dengan darah” serta “perang suci untuk menghapus para penyerbu bersenjata Ukraina.”

Upacara di Pyongyang juga bertepatan dengan satu tahun operasi Rusia merebut kembali wilayah Kursk dari pasukan Ukraina pada 2024.

Kerja sama kedua negara terus diperluas sejak kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Pyongyang pada 2024. Kedua pihak kini disebut tengah menyiapkan perjanjian kerja sama militer baru untuk periode 2027–2031 sebagai kelanjutan dari Comprehensive Strategic Partnership Treaty.

Museum yang diresmikan turut memamerkan sejumlah peralatan militer Barat yang diklaim direbut di medan perang, termasuk tank Leopard 2A4 dan M1A1 Abrams.

Kekhawatiran atas eskalasi militer Korut

Keterlibatan langsung Korea Utara dalam konflik Ukraina memicu kekhawatiran lebih luas, terutama terkait pengembangan militernya. Intelijen dan lembaga internasional menilai Pyongyang memanfaatkan konflik sebagai ajang uji coba senjata.

Sepanjang 2026, Korea Utara dilaporkan telah melakukan sedikitnya tujuh peluncuran rudal balistik. Pada saat yang sama, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menyebut adanya “peningkatan pesat” aktivitas di fasilitas nuklir negara tersebut.

Data dari Badan Intelijen Nasional Korea Selatan menunjukkan hingga Februari 2026 sekitar 6.000 tentara Korea Utara telah tewas atau terluka dalam konflik tersebut, mempertegas besarnya skala keterlibatan Pyongyang di medan perang Ukraina.