kapal perusak JS Sazanami (DD-113) milik Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF).


Hubungan diplomatik antara China dan Jepang kembali memanas setelah sebuah kapal Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) berlayar melintasi Selat Taiwan pada Jumat (17/4). Langkah Tokyo ini memicu reaksi keras dari Beijing, menandai titik terendah baru dalam dinamika dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia tersebut sejak akhir 2025.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa tindakan Jepang merupakan provokasi yang disengaja untuk memamerkan kekuatan militer. Beijing menilai pelintasan tersebut merusak landasan politik kedua negara serta mengancam kedaulatan China.

"Jepang harus sungguh-sungguh merenungkan tindakannya, memperbaiki kesalahannya, mundur dari jurang kehancuran, dan bertindak dengan penuh kehati-hatian," ujar Guo Jiakun dalam keterangan resminya. Ia menegaskan bahwa isu Taiwan adalah "garis merah yang tidak bisa dilanggar."

Pelintasan pada Jumat (17/4) kemarin tercatat sebagai kali ketiga kapal perang Jepang melewati Selat Taiwan dalam beberapa tahun terakhir. Mengutip laporan Japan Times, kapal perusak Sazanami mengawali tren ini pada September 2024 saat berlayar bersama kapal perang Australia dan Selandia Baru. Kemudian pada Februari 2025, kapal perusak Akizuki menjadi kapal Jepang pertama yang melintasi wilayah sensitif tersebut secara mandiri.

Di sisi lain, langkah Jepang selaras dengan strategi AS dan sekutunya untuk menegaskan bahwa Selat Taiwan adalah perairan internasional. Klaim ini secara konsisten ditolak oleh Beijing yang menganggap seluruh wilayah selat berada di bawah yurisdiksinya. 

Peningkatan intensitas pelintasan ini terjadi di tengah pergeseran taktik China terhadap Taiwan dan Jepang, sementara perhatian dunia juga terbagi oleh konflik di Timur Tengah. Militer Jepang sendiri memang terus memperluas jejak strategisnya. 

Pada 14 April, Beijing melayangkan kritik tajam atas rencana penempatan unit rudal antipesawat di Yonaguni, pulau di Prefektur Okinawa yang letaknya sangat dekat dengan Taiwan. China menyebut langkah tersebut sebagai upaya membangun benteng terdepan untuk konfrontasi militer.

Kekuatan pemukul Jepang juga meningkat signifikan. Bulan Maret lalu, kapal perusak Aegis Chokai resmi menjadi kapal pertama Jepang yang mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk buatan AS. Kemampuan baru ini membuat target-target strategis di daratan China kini berada dalam jangkauan serangan Jepang.

Kantor berita resmi Xinhua memastikan bahwa Beijing telah menyampaikan protes resmi dan tetap pada posisi "dengan tegas menentang" segala bentuk aktivitas militer asing di Selat Taiwan. Militer China mengeklaim telah memantau dan menangani aktivitas kapal SDF tersebut sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.