![]() |
| Kendaraan peluncur rudal Tipe 12 Pasukan Bela Diri Darat Jepang. | JAPAN MINISTRY OF DEFENSE |
Jepang untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II menempatkan rudal jarak jauh yang mampu menyerang wilayah musuh, menandai perubahan besar dalam kebijakan pertahanan negara itu yang selama puluhan tahun berpegang pada prinsip pasifisme pascaperang.
Kementerian Pertahanan Jepang pada Selasa mengonfirmasi penyebaran sistem rudal serangan balasan di dua pangkalan militer utama. Langkah ini menjadi bagian dari strategi keamanan baru yang memperluas kemampuan pertahanan Tokyo di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Asia Timur.
Arsenal baru terbentuk
Rudal berpemandu permukaan-ke-kapal Type-12 versi peningkatan yang saat operasional dinamai Type-25 kini ditempatkan di Camp Kengun, Prefektur Kumamoto, di Pulau Kyushu. Sistem tersebut dikembangkan oleh Mitsubishi Heavy Industries dan memiliki jangkauan sekitar 1.000 kilometer.
Dengan jarak tersebut, rudal Jepang untuk pertama kalinya mampu menjangkau area di luar wilayah nasional secara signifikan, termasuk sebagian pesisir timur daratan Tiongkok. Kota Shanghai berada sekitar 900 kilometer dari lokasi penempatan di Kumamoto.
Di pangkalan lain, Camp Fuji di Prefektur Shizuoka, militer Jepang juga mulai mengoperasikan proyektil luncur berkecepatan tinggi yang dirancang untuk mempertahankan pulau-pulau terpencil. Versi awal memiliki jangkauan beberapa ratus kilometer, sementara varian lanjutan yang tengah dikembangkan ditargetkan mampu mencapai sekitar 2.000 kilometer.
Penyebaran ini mencerminkan perubahan bertahap dalam doktrin keamanan Jepang yang sebelumnya menitikberatkan pada pertahanan murni tanpa kemampuan serangan jarak jauh.
Pergeseran doktrin keamanan
Perubahan tersebut berakar pada strategi keamanan nasional yang diadopsi pada 2022. Dokumen itu memperkenalkan konsep kemampuan “serangan balasan”, yang memungkinkan Jepang menyerang pangkalan musuh apabila pemerintah menilai serangan bersenjata terhadap negaranya sudah sangat dekat dan tidak ada opsi pertahanan lain yang tersedia.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyebut langkah ini sebagai bagian penting dari penguatan daya tangkal militer Jepang.
“Inisiatif ini sangat penting untuk memperkuat kemampuan pencegahan dan respons Jepang,” ujarnya. Ia menambahkan kemampuan jarak jauh memungkinkan Jepang “menghadapi ancaman pasukan musuh yang berusaha menyerbu negara kita sambil memastikan keselamatan personel kita.”
Sejumlah analis keamanan menilai doktrin tersebut membuka ruang interpretasi baru dalam hukum pertahanan Jepang. Kesalahan perhitungan dalam penggunaan kemampuan serangan balasan, menurut mereka, berpotensi dipersepsikan komunitas internasional sebagai serangan preventif yang dilarang.
Penolakan di tingkat lokal
Di dalam negeri, penyebaran rudal memicu resistensi masyarakat sekitar pangkalan militer. Lebih dari 1.000 warga menggelar demonstrasi di luar Camp Kengun pada Februari, membawa poster bertuliskan “Tidak untuk rudal” dan “Jangan jadikan Kumamoto medan perang”.
Ketegangan meningkat ketika peluncur rudal dipindahkan ke pangkalan melalui operasi tengah malam pada 9 Maret tanpa pemberitahuan rinci kepada pemerintah daerah.
Gubernur Kumamoto Takashi Kimura menyebut minimnya transparansi dari kementerian sebagai “sangat mengecewakan”. Wali Kota Kumamoto Kazufumi Onishi mengatakan tingkat kepercayaan pemerintah kota terhadap otoritas pertahanan telah “menurun secara signifikan”.
Kementerian Pertahanan Jepang berencana memperluas penempatan rudal jarak jauh pada tahun fiskal 2026, termasuk di Camp Kamifurano di Hokkaido dan Camp Ebino di Prefektur Miyazaki.

0Komentar