Bendera Jepang, AS, Jerman, dan Australia, selama latihan militer tahunan Tahun Baru oleh Brigade Lintas Udara ke-1 Pasukan Bela Diri Darat Jepang di lapangan latihan Narashino di Funabashi, timur Tokyo, Jepang 11 Januari 2026. Kim Kyung-Hoon/Reuters


Amerika Serikat dan Filipina akan menggelar latihan militer Balikatan terbesar sepanjang sejarah pada 20 April hingga 8 Mei, melibatkan lebih dari 17.000 personel dari tujuh negara. Latihan gabungan ini berlangsung di berbagai wilayah kepulauan Filipina, di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan serta tekanan ekonomi akibat gangguan pasokan energi global.

Balikatan ke-41 yang berarti “bahu-membahu” dalam bahasa Tagalog bertepatan dengan 75 tahun Perjanjian Pertahanan Bersama antara Filipina dan AS. Selain kedua negara, latihan ini juga diikuti Australia, Jepang, Kanada, Prancis, dan Selandia Baru, dengan 17 negara lain hadir sebagai pengamat.

Keterlibatan Jepang menjadi salah satu sorotan utama. Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Jepang mengerahkan pasukan tempur ke Filipina. Japan Self-Defense Forces (SDF) mengirim sekitar 1.400 personel, dilengkapi kapal perang, pesawat, serta sistem rudal anti-kapal Type 88.

Menurut laporan Japan Times, pengerahan ini dimungkinkan setelah Perjanjian Akses Timbal Balik Jepang-Filipina mulai berlaku pada September lalu. Staf Gabungan Jepang menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari penguatan kerja sama keamanan regional. Dengan jumlah personel yang dikerahkan, Jepang menjadi kontributor pasukan terbesar ketiga setelah Filipina dan AS.

Latihan akan mencakup operasi lintas domain, mulai dari darat, laut, udara, hingga siber dan luar angkasa. Sejumlah skenario utama disiapkan, termasuk simulasi pertahanan pantai, keamanan maritim, serta tembakan gabungan.

Di lapangan, kegiatan dijadwalkan berlangsung di sejumlah titik strategis. Latihan maritim multinasional akan digelar di perairan utara Luzon, sementara latihan pertahanan udara dan rudal terpadu berlangsung di Teluk Subic. Di Ilocos Norte, pasukan akan menjalankan simulasi serangan maritim. 

Nikkei Asia melaporkan SDF Jepang diperkirakan menembakkan rudal Type 88 ke kapal target yang telah dipensiunkan sebagai bagian dari latihan.

Di sisi lain, China memandang ekspansi latihan ini dengan kekhawatiran. Dalam editorial yang diterbitkan China Daily pada 10 April, Beijing menilai pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengambil “pendekatan yang semakin tidak menentu terhadap China”.

Editorial tersebut menyebut Manila “terus memancing masalah di laut meskipun kekurangan bahan bakar di dalam negeri dan kesulitan publik yang kian memburuk mendorongnya untuk mencari pembicaraan dengan Beijing”. Media itu juga memperingatkan bahwa hubungan militer yang semakin erat dengan Washington berisiko menjadikan Filipina sebagai “bidak permanen dalam pertarungan milik orang lain”.

Kritik itu muncul di tengah upaya pemulihan dialog diplomatik antara Filipina dan China. Pada akhir Maret, kedua negara kembali membuka pembicaraan terkait kemungkinan kerja sama minyak dan gas di Laut China Selatan. 

Departemen Luar Negeri Filipina menegaskan setiap kesepakatan energi akan dibuat “semata-mata sesuai dengan Konstitusi Filipina” dan tetap menjunjung penuh kedaulatan negara, seperti dilaporkan Reuters.

Di kawasan, dinamika keamanan juga terus bergerak. Filipina baru saja meresmikan pusat komando khusus pertamanya di Laut China Selatan di Pulau Thitu pada 9 April. Pemerintah Jepang menyatakan partisipasi SDF dalam Balikatan bertujuan “berkontribusi dalam menciptakan lingkungan keamanan yang tidak mentoleransi perubahan status quo secara sepihak melalui kekuatan”.

Sebelum latihan resmi dimulai, pasukan Filipina dan AS telah melakukan simulasi logistik, termasuk pembongkaran peralatan dari kapal pemosisian maritim di Pelabuhan Cagayan de Oro. Pergerakan logistik ini dijadwalkan terus berlangsung sepanjang periode latihan.