Iron Dome (Kubah Besi), sistem pertahanan udara jarak pendek yang dioperasikan oleh Israel. EPA


Israel dilaporkan mengerahkan satu baterai sistem pertahanan udara Iron Dome ke Uni Emirat Arab (UEA) pada fase awal perang dengan Iran pada 2026—pertama kalinya sistem itu dikirim ke negara lain.

Laporan Axios menyebut pengerahan diperintahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah percakapan dengan Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan, saat negara Teluk itu menghadapi serangan rudal dan drone Iran.

Dua pejabat Israel dan satu pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi sistem tersebut digunakan dan mencegat puluhan rudal selama konflik.

Pengerahan terjadi setelah operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari memicu serangan balasan ke kawasan Teluk.

UEA termasuk yang paling terdampak. Kementerian Pertahanannya mencatat sekitar 550 rudal balistik dan jelajah serta lebih dari 2.200 drone diluncurkan sejak awal perang.

"Itulah pertama kalinya Israel mengirimkan baterai Iron Dome ke negara lain, dan UEA menjadi negara pertama di luar AS dan Israel yang menggunakan sistem tersebut," kata seorang pejabat senior Israel kepada Axios.

Sebelumnya, UEA telah mengoperasikan sistem Patriot, THAAD, dan Barak-8 dengan tingkat intersepsi tinggi, meski sebagian proyektil tetap lolos. Iron Dome menambah perlindungan jarak pendek terhadap ancaman rendah.

Pejabat Israel menyebut pengerahan ini sebagai respons cepat antar mitra Perjanjian Abraham, tanpa pengumuman publik untuk menekan eskalasi. Koordinasi militer kedua negara disebut berlangsung erat, termasuk serangan Israel ke selatan Iran untuk menekan ancaman ke Teluk.

Seorang pejabat senior UEA mengatakan negaranya menghargai bantuan tersebut. "UEA tidak akan melupakan bantuan yang diberikan Israel selama krisis ini," ujarnya, dikutip Axios.

Hingga kini, kedua pemerintah belum memberi pernyataan resmi. Detail lokasi, durasi, dan jumlah intersepsi tidak diungkap.