![]() |
| Momen ujian masuk universitas di Jepang. YOMIURI SHIMBUN |
Model kecerdasan buatan milik OpenAI dilaporkan mencatatkan skor melampaui peserta manusia terbaik dalam ujian masuk dua kampus paling bergengsi di Jepang, University of Tokyo dan Kyoto University, untuk periode seleksi 2026.
Hasil ini diumumkan oleh perusahaan rintisan AI asal Tokyo, LifePrompt Inc., yang menguji model ChatGPT 5.2 Thinking menggunakan soal ujian resmi yang dikonversi ke format gambar. Jawaban esai kemudian dinilai oleh pengajar dari Kawai Juku, lembaga bimbingan belajar terkemuka di Jepang.
Pada jalur Ilmu Pengetahuan Alam III di University of Tokyo—yang dikenal sebagai salah satu jalur paling kompetitif karena menjadi pintu masuk ke fakultas kedokteran—model AI tersebut meraih 503 dari 550 poin. Angka itu sekitar 50 poin di atas skor tertinggi peserta manusia yang mencapai 453. Sistem ini juga mencatat nilai sempurna di matematika.
Untuk jalur Humaniora dan Ilmu Sosial, AI mencetak 452 poin, melampaui capaian tertinggi manusia sebesar 434.
Hasil serupa terlihat di Kyoto University. Model tersebut memperoleh 771 poin pada ujian Fakultas Hukum, melampaui skor kelulusan tertinggi 734, serta 1.176 poin pada ujian Fakultas Kedokteran, lebih tinggi dari capaian terbaik manusia di angka 1.098.
Meski unggul dalam mata pelajaran kuantitatif dan analitis, performa AI tidak merata. Nilai esai Sejarah Dunia hanya mencapai sekitar 25%, kontras dengan capaian 90% pada ujian bahasa Inggris.
Uji coba ini menandai percepatan kemampuan AI dalam waktu singkat. Pada 2024, LifePrompt menguji model ChatGPT-4 dalam ujian University of Tokyo, namun gagal mencapai ambang kelulusan. Setahun kemudian, model o1 untuk pertama kalinya mampu melewati batas tersebut.
Lonjakan pada 2026 hingga melampaui seluruh peserta manusia dinilai sebagai perkembangan yang tidak banyak diperkirakan sebelumnya.
Pada Januari lalu, LifePrompt juga melaporkan model yang sama mencetak nilai sempurna di sembilan dari 15 mata pelajaran dalam ujian masuk terpadu Jepang, termasuk matematika, kimia, dan informatika, dengan akurasi keseluruhan mencapai 97%.
Temuan ini kembali memantik diskusi mengenai relevansi ujian standar. Satoshi Kurihara, profesor di Keio University sekaligus ketua Masyarakat Kecerdasan Buatan Jepang, menilai perbandingan langsung antara manusia dan AI tidak sepenuhnya tepat.
"Sama seperti kalkulator yang dapat melakukan perhitungan lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia, wajar saja jika AI mendapat nilai tinggi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sistem seleksi saat ini perlu ditinjau ulang karena masih berfokus pada kemampuan mengingat dan berhitung.
Dari sisi industri, Satoshi Endo dari LifePrompt menyoroti implikasi jangka panjang bagi dunia usaha.
"Mengingat pesatnya perkembangan AI, perusahaan-perusahaan perlu mengadopsi AI dengan mempertimbangkan bagaimana operasional bisnis akan berjalan dalam 10 hingga 20 tahun ke depan," katanya.

0Komentar