Presiden AS Donald Trump berbicara di Kantor Oval, di Gedung Putih di Washington, DC, AS, 23 April 2026. KYLIE COOPER/REUTERS

 

Amerika Serikat memberi tekanan baru kepada Lebanon dengan menetapkan tenggat tiga minggu bagi Beirut untuk menyusun rencana pelucutan senjata Hizbullah. Jika tidak ada kemajuan konkret hingga pertengahan Mei, Washington disebut tidak lagi akan menahan Israel dari memperluas operasi militernya di Lebanon selatan.

Informasi ini disampaikan sejumlah sumber diplomatik kepada The New Arab, menyusul perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang diumumkan pada 23 April oleh Presiden Donald Trump. 

Gencatan yang semula berlaku 10 hari sejak 16 April diperpanjang tiga minggu, namun kini diposisikan sebagai batas waktu politik bagi Beirut.

Para diplomat menegaskan, Washington tidak menuntut pelucutan senjata Hizbullah selesai dalam periode tersebut, melainkan meminta peta jalan yang jelas dan bisa dijalankan. 

“Yang kami minta adalah rencana yang solid, bukan pelucutan senjata Hizbullah dalam tiga minggu,” kata sumber tersebut. Mereka menambahkan, tanpa rencana itu, pejabat AS dan Arab Saudi bisa kembali “lepas tangan” dari Lebanon.

Gencatan senjata kian rapuh

Tekanan muncul di tengah meningkatnya ketegangan di lapangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Hizbullah terus melanggar gencatan senjata.

Menurut Pusat Riset Alma, kelompok tersebut telah melancarkan 31 serangan sejak gencatan berlaku, termasuk 18 serangan menggunakan drone dan bahan peledak. Tujuh di antaranya disebut diarahkan ke wilayah Israel. Serangan balasan Israel memperbesar risiko runtuhnya kesepakatan yang sudah rapuh.

Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak keterlibatan Lebanon dalam proses dengan Israel. Ia menegaskan operasi kelompoknya akan terus berlanjut dan mengkritik pembicaraan langsung yang dilakukan pemerintah Lebanon.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengambil posisi berbeda. Ia membela jalur diplomasi tersebut sebagai bagian dari upaya memulihkan kedaulatan negara.

Upaya diplomatik berjalan paralel

Situasi Lebanon kini menjadi titik temu tiga jalur diplomatik yang berjalan paralel.

Jalur yang dipimpin AS menempatkan pelucutan senjata Hizbullah sebagai syarat utama sebelum pembahasan penarikan pasukan Israel. 

Di saat bersamaan, inisiatif Arab Saudi dan Mesir berupaya membangun konsensus internal Lebanon, termasuk mendorong dukungan Ketua Parlemen Nabih Berri dan menawarkan investasi rekonstruksi di Lebanon selatan sebagai insentif.

Di luar itu, perundingan nuklir antara AS dan Iran tetap berjalan terpisah, meski Hizbullah berupaya mengaitkannya dengan dinamika di Lebanon.

Washington menetapkan urutan langkah yang tegas: pelucutan senjata Hizbullah lebih dulu, diikuti penarikan Israel, demarkasi perbatasan, lalu pembahasan hak atas air. 

Sejumlah anggota Kongres dari Partai Republik juga mendorong agar bantuan militer AS kepada tentara Lebanon dikaitkan dengan kemajuan dalam pelucutan senjata.

Pertemuan antara Trump dan Netanyahu diperkirakan berlangsung sekitar pertengahan Mei, bertepatan dengan berakhirnya masa gencatan senjata. Para diplomat memperingatkan, kegagalan Lebanon menyajikan rencana kredibel sebelum tenggat itu dapat mengubah posisi AS dan membuka jalan bagi eskalasi militer Israel.