Pedagang menggunakan kantong plastik sekali pakai untuk membungkus barang dagangan di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Selasa (30/6/2020). 


Harga plastik di Indonesia melonjak hingga 70% dalam beberapa pekan terakhir, terseret gangguan pasokan bahan baku petrokimia akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kenaikan tajam ini mulai menekan pedagang pasar hingga mengganggu industri air minum dalam kemasan (AMDK).

Indonesia selama ini masih bergantung pada impor nafta—bahan baku utama plastik—dari kawasan tersebut. Sekitar 60% kebutuhan nasional dipasok dari Timur Tengah. 

Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, distribusi melalui Selat Hormuz tersendat, memicu lonjakan harga nafta dari sekitar US$600 menjadi mendekati US$900 per ton. Harga polyethylene ikut terdorong, menembus 9.000 yuan per ton pada Maret, level tertinggi dalam empat tahun.

Pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari Afrika, India, dan Amerika. Di tingkat industri, pelaku usaha menyesuaikan ritme produksi. Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, mengatakan pabrik kini menerapkan pola on-off, berhenti saat utilisasi industri hulu turun di bawah 60% dan kembali beroperasi ketika bahan baku tersedia.

Di pasar, dampaknya terasa cepat. Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, menyebut harga plastik naik sekitar 50%. Kantong kresek yang sebelumnya Rp10.000 per pak kini dijual Rp15.000. Di Pasar Bauntung, Banjarbaru, harga gelas plastik per dus isi 2.000 cup melonjak dari Rp280.000 menjadi Rp500.000. Di Tangerang, kenaikan berbagai jenis plastik mencapai 60–70%.

Penyesuaian harga itu memukul omzet pedagang. Penurunan penjualan dilaporkan hingga 30% di sejumlah daerah. Di Pekanbaru, pembeli mulai menahan transaksi karena harga dianggap terlalu tinggi. Di Malang, pedagang memilih menekan margin untuk menjaga pelanggan tetap bertahan.

Tekanan paling terasa di industri AMDK. Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) mencatat kemasan plastik menyumbang sekitar 60% dari total biaya produksi. Lonjakan harga bahan baku yang kini berada di kisaran 25–100% memaksa produsen menimbang kenaikan harga jual atau memangkas keuntungan.

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, menilai pelaku usaha kecil paling rentan. “UMKM AMDK yang likuiditasnya terbatas paling terpukul; stok bahan baku habis, dan terpaksa naik harga,” ujarnya.

Asosiasi tersebut mendorong pemerintah memberikan insentif, termasuk pengurangan PPN dan pelonggaran bea masuk, untuk meredam tekanan biaya di tengah gangguan pasokan global.