Transjakarta BYD/VKTR (distributor resmi BYD di Indonesia) bus listrik D9 (dioperasikan oleh Sinar Jaya) di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Indonesia. WIKIPEDIA

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mendorong percepatan elektrifikasi di sektor transportasi dan rumah tangga sebagai langkah menekan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Peralihan dari energi fosil ke listrik disebut berpotensi menghemat hingga 30%.

Dorongan ini muncul di tengah tingginya tekanan subsidi energi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan Rp394,3 triliun untuk subsidi energi. Angka itu direncanakan turun dalam RAPBN 2026 menjadi Rp210,06 triliun, meski porsi besar masih terserap untuk BBM dan LPG.

Sugeng menilai struktur subsidi saat ini belum efisien karena masih bergantung pada energi fosil, sebagian di antaranya berasal dari impor. Ketergantungan ini dinilai membuat APBN rentan terhadap gejolak harga energi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan dan harga.

“Listrik harus menjadi backbone energi kita di masa depan,” ujar Sugeng dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026.

Ia menekankan, peralihan ke listrik bukan hanya soal efisiensi anggaran, tetapi juga strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Pasokan listrik domestik yang relatif melimpah dinilai bisa menjadi fondasi untuk mengurangi impor energi.

Langkah awal elektrifikasi diarahkan pada kendaraan operasional pemerintah dan angkutan umum. Skema ini dianggap paling realistis untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi dalam waktu relatif cepat.

Penggunaan kendaraan listrik di sektor tersebut diharapkan menciptakan efek berantai, baik dari sisi penghematan anggaran maupun percepatan adopsi teknologi di masyarakat.

Sugeng menyebut, strategi bertahap ini penting agar transisi berjalan terukur tanpa membebani sistem energi nasional.

Selain transportasi, DPR juga mendorong elektrifikasi di sektor rumah tangga, terutama melalui penggunaan kompor induksi. Konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dengan sebagian besar masih dipenuhi dari impor.

Menurut Sugeng, pengalihan ke listrik di sektor ini dapat memangkas biaya energi sekaligus menekan ketergantungan pada impor.

“Penggunaan listrik di sektor rumah tangga, termasuk kompor induksi, akan menghemat sekitar 30% jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil seperti LPG subsidi. Tingkat ketergantungan impor akan kita kurangi secara signifikan,” kata dia.

Ia juga memastikan kapasitas sistem kelistrikan nasional dinilai cukup untuk menopang peningkatan kebutuhan listrik dari program elektrifikasi tersebut.