![]() |
| kompleks PT Kilang Pertamina Internasional Unit Balikpapan. PERTAMINA |
PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapan teknis untuk mengolah minyak mentah asal Rusia seiring rencana pemerintah membuka impor energi dari negara tersebut. Kapasitas kilang yang dimiliki dinilai cukup fleksibel untuk memproses berbagai jenis crude, termasuk dari Rusia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan unit pengolahan atau Refinery Unit (RU) yang beroperasi saat ini mampu mengolah minyak mentah menjadi berbagai produk turunan.
"Untuk crude dari Rusia, Refinery Unit/kilang yang dimiliki Pertamina mampu dan dapat mengolahnya untuk menjadi produk olahan dari crude tersebut," ujarnya.
Kemampuan tersebut ditopang proses modernisasi kilang yang tengah berjalan. Pembaruan fasilitas ini memberi ruang lebih besar bagi Pertamina untuk menyesuaikan spesifikasi bahan baku, sehingga tidak bergantung pada satu jenis minyak mentah.
Meski kesiapan teknis telah dikantongi, keputusan pembelian masih berada pada level pemerintah. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebut perusahaan akan mengikuti arahan yang ditetapkan dalam kebijakan energi nasional.
"Sebagai BUMN yang mengelola energi nasional, Pertamina akan menindaklanjuti sesuai arahan dan regulasi yang ditetapkan," kata Baron.
Ia menambahkan, kesesuaian spesifikasi minyak Rusia dengan kebutuhan kilang masih dalam tahap kajian.
Rencana impor minyak dan LPG dari Rusia mengemuka setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Kremlin. Komunikasi lanjutan dilakukan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev serta sejumlah perusahaan energi seperti Rosneft dan Lukoil.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menjajaki tambahan pasokan crude dan LPG, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas, mulai dari pengembangan kilang, pemanfaatan teknologi energi, hingga pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah.
Langkah ini berlangsung di tengah gejolak pasar energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Pemerintah berupaya memperluas sumber pasokan guna menjaga ketahanan energi nasional, termasuk dengan mempertimbangkan aspek keekonomian dan kepatuhan terhadap regulasi dalam setiap pengadaan minyak mentah.
Bahlil menyebut komunikasi dengan Rusia memberi peluang tambahan cadangan energi.
"Kita mendapatkan hasil yang cukup baik di mana kita bisa mendapatkan cadangan crude kita untuk kita tambah. Di samping itu juga kita akan bisa mendapatkan LPG," ujarnya.

0Komentar