![]() |
| Seseorang menunjuk ke halaman di situs web Marinetraffic yang menunjukkan lalu lintas kapal komersial di tepi Selat Hormuz dekat pantai Iran, di Paris pada 4 Maret 2026. Julien De Rosa / AFP |
Krisis di Selat Hormuz kian menekan pasokan energi ke Asia setelah blokade yang diberlakukan Iran dan Amerika Serikat membuat puluhan kapal tanker tertahan dan jalur pelayaran tersendat. Negara-negara pengimpor utama di kawasan ini mulai menghadapi gangguan logistik dan ketidakpastian distribusi minyak.
Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas itu selama ini menjadi jalur vital bagi pasokan energi ke Asia. Sekitar 20% minyak yang diangkut melalui laut dunia melintasi kawasan ini, dengan porsi besar menuju pasar Asia Timur dan Asia Selatan. Ketika akses terhambat, dampaknya langsung terasa pada negara yang bergantung pada impor.
Situasi memburuk sejak pertengahan April, ketika dua pembatasan berjalan bersamaan. Iran menyaring kapal berdasarkan pertimbangan politik, sementara AS menarget kapal yang memiliki keterkaitan dengan pelabuhan Iran. Kombinasi ini membuat banyak kapal tidak memiliki jalur aman untuk melintas.
Malaysia menjadi salah satu negara yang terdampak langsung. Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada 17 April mengatakan lima kapal tanker yang menuju negaranya masih tertahan di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, hanya dua yang berhasil keluar, satu sudah berada di perairan Malaysia dan satu lagi berlabuh di kilang Pengerang, Johor.
Ia menjelaskan hambatan muncul meski sebelumnya ada persetujuan dari Iran. "Kami memang sudah mendapat lampu hijau dari Iran… namun karena situasi baru yang kami hadapi, ada sedikit komplikasi," ujar Anwar kepada wartawan usai salat Jumat di Cyberjaya. Media New Straits Times melaporkan satu kapal tanker berbendera Malaysia juga mengalami kerusakan dan belum dapat bertolak dari pelabuhan di sekitar selat.
Korea Selatan menghadapi tekanan lebih luas. Pemerintah di Seoul mencatat 26 kapal yang terkait dengan negaranya, dengan total 173 awak, masih tertahan di dalam atau sekitar Hormuz. Upaya diplomatik telah dilakukan, termasuk mengirim utusan khusus Chung Byung-ha ke Teheran untuk membuka jalur negosiasi.
Sejumlah perkembangan terbatas sempat terjadi. Sebuah kapal tanker yang terkait dengan Korea Selatan berhasil mengirim minyak mentah melalui jalur alternatif, memanfaatkan pipa Petroline yang menghubungkan ladang minyak Teluk Persia ke Laut Merah.
Kapal itu memuat minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, dan menjadi yang pertama dari Korea Selatan yang kembali bergerak. Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan menyatakan pemantauan dilakukan secara langsung.
Namun pembatasan dari Iran tetap menjadi kendala utama. Persyaratan yang diajukan, termasuk larangan terhadap pengiriman minyak dari negara yang berdagang dengan AS, membuat sebagian besar kapal tetap tertahan.
Ketegangan ini berakar dari eskalasi militer pada akhir Februari, ketika serangan udara AS dan Israel terhadap Iran memicu respons Teheran berupa pembatasan akses di Selat Hormuz. Upaya gencatan senjata pada awal April tidak mampu memulihkan lalu lintas secara penuh.
Situasi makin kompleks setelah Angkatan Laut AS pada 13 April memberlakukan blokade tambahan yang menarget kapal terkait Iran. Kebijakan itu mempersempit ruang gerak pelayaran komersial di jalur yang sama.
Di forum internasional, India menyoroti dampak terhadap keselamatan pelayaran. Dalam sidang Majelis Umum PBB, Duta Besar Harish Parvathaneni menyebut serangan terhadap kapal dagang sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan mendesak pemulihan kebebasan navigasi.
"Serangan terhadap kapal niaga dan ancaman terhadap keselamatan awak sipil merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima berdasarkan hukum internasional," kata Parvathaneni.
Skala gangguan terlihat dari antrean kapal di kawasan Teluk. CEO Abu Dhabi National Oil Company Sultan Al Jaber memperkirakan sekitar 230 kapal tanker bermuatan kini menunggu untuk melintas. Bagi negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut, keterlambatan ini mulai mengganggu rantai pasok dan meningkatkan tekanan pada distribusi minyak.

0Komentar