![]() |
| Sebuah alat berat front-end loader mengangkut fosfogypsum di Phalaborwa, Afrika Selatan, Senin, 8 September 2025. Kredit: AP/THEMBA HADEBE |
Amerika Serikat mengucurkan investasi awal US$50 juta untuk proyek pengolahan tanah jarang di Afrika Selatan, langkah yang diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan China dalam rantai mineral kritis global.
Pendanaan tersebut disalurkan melalui U.S. International Development Finance Corporation (DFC) kepada perusahaan mineral TechMet, yang terlibat dalam pengembangan proyek Rare Earth Phalaborwa di Provinsi Limpopo. Proyek ini memanfaatkan limbah industri lama berupa fosfogipsum sebagai sumber ekstraksi mineral bernilai tinggi.
Di lokasi bekas fasilitas kimia itu, perusahaan Inggris Rainbow Rare Earths menargetkan sekitar 35 juta ton material sisa pengolahan batu fosfat yang telah menumpuk selama puluhan tahun. Dari limbah tersebut, perusahaan akan mengekstraksi unsur seperti neodimium, praseodimium, disprosium, dan terbium—komponen penting untuk magnet berkinerja tinggi yang digunakan dalam turbin angin, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan.
Chief Executive Officer Rainbow Rare Earths George Bennett mengatakan produksi dari proyek ini diarahkan untuk pasar Amerika Serikat, dengan permintaan yang juga datang dari sektor militer.
“Kami berharap dapat memasok produk terutama ke Amerika Serikat,” ujar Bennett kepada Associated Press, menyinggung minat yang berkaitan dengan sistem pertahanan.
Pembangunan fasilitas pengolahan dijadwalkan dimulai pada awal 2027. Operasi ekstraksi ditargetkan berjalan pada 2028 dengan umur proyek sekitar 16 tahun. Perusahaan menyebut hingga 90% kebutuhan energi akan dipasok dari sumber terbarukan, dengan target biaya produksi yang kompetitif dibandingkan produsen China.
Langkah ini muncul di tengah dominasi Beijing dalam rantai pasokan tanah jarang global. Data industri yang dikutip Business Insider Africa menunjukkan China menguasai sekitar 70% produksi tambang, 90% kapasitas pemisahan dan pemurnian, serta lebih dari 90% produksi magnet berbasis tanah jarang.
Dominasi tersebut mendorong Washington mempercepat diversifikasi sumber pasokan. Komitmen DFC terhadap proyek Phalaborwa pertama kali diumumkan pada KTT COP28 tahun 2023 di era Presiden Joe Biden. Pemerintahan Donald Trump kemudian memperluas agenda ini dengan investasi domestik dan rencana cadangan strategis mineral.
Pada Januari, pemerintah AS mengumumkan investasi sekitar US$1,6 miliar untuk mendukung pengembangan USA Rare Earth, termasuk produksi magnet di dalam negeri. Pemerintah juga memberi sinyal rencana alokasi hingga hampir US$12 miliar untuk memperkuat cadangan mineral strategis.
Ekspansi China di Afrika menjadi bagian dari dinamika yang sama. Beijing telah mengamankan kepemilikan atas deposit tanah jarang Ngualla di Tanzania serta memperluas akses terhadap pasokan litium melalui perusahaan seperti BYD.
Di tengah ketegangan diplomatik antara Washington dan Pretoria, proyek Phalaborwa tetap berjalan sebagai kerja sama bisnis. Pemerintah Afrika Selatan tidak memiliki kepemilikan langsung dalam proyek tersebut.
AS juga memperluas jangkauan investasinya di kawasan. U.S. Trade and Development Agency menandatangani pendanaan US$1,8 juta untuk studi kelayakan proyek tanah jarang di Mozambik, mempertegas langkah diversifikasi pasokan mineral di Afrika.

0Komentar