Presiden Trump berbicara selama konferensi pers tentang serangan AS terhadap Iran di Trump National Doral Miami pada 9 Maret. | WHITE HOUSE


Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran tidak menjalankan komitmen membuka kembali Selat Hormuz dalam gencatan senjata yang baru disepakati. Pernyataan itu memicu kembali ketegangan dan mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel.

Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan awal pekan ini sempat memicu optimisme pasar. Perjanjian tersebut mencakup penghentian sementara serangan militer AS dengan imbalan pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute vital bagi sekitar 20% pasokan minyak global.

Namun, data pelayaran menunjukkan aktivitas yang masih jauh dari normal. Dalam dua hari pertama sejak kesepakatan berlaku, hanya sekitar 22 kapal yang melintasi selat tersebut. Dari jumlah itu, hanya satu kapal tanker minyak yang tercatat beroperasi. Sejumlah pelaku industri energi bahkan menilai jalur tersebut secara praktik masih tertutup.

Trump menanggapi situasi ini dengan kritik keras. Dalam unggahan di platform Truth Social, ia menyebut Iran gagal memenuhi kesepakatan.

"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, memalukan kata sebagian orang, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!" tulisnya.

Ia juga memperingatkan Iran agar tidak mengenakan biaya terhadap kapal yang melintas. "Mereka lebih baik tidak melakukannya, dan jika mereka melakukannya, mereka lebih baik berhenti sekarang!" kata Trump.

Ketegangan ini muncul di tengah saling tuding pelanggaran antara kedua pihak. Iran menilai AS tidak menahan Israel yang terus melancarkan serangan terhadap target Hizbullah di Lebanon. Media pemerintah Iran sempat melaporkan bahwa transit di Selat Hormuz dihentikan sebagai respons atas situasi tersebut.

Pemimpin Tertinggi baru Iran juga menyatakan akan membawa pengelolaan selat itu “ke tingkat yang baru,” menandakan potensi kebijakan yang lebih ketat terhadap lalu lintas kapal.

Reaksi pasar bergerak cepat. Setelah sempat turun sekitar 13% ke kisaran US$95 per barel sehari sebelumnya, harga minyak kembali melonjak. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate diperdagangkan di sekitar US$97 per barel, naik sekitar 3% hingga 5% seiring kekhawatiran gangguan pasokan yang berlanjut.

Pasar saham juga kehilangan momentum. Indeks di Asia bergerak datar hingga melemah tipis setelah sebelumnya mencatat penguatan.

Analis Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa kembali ke sekitar US$75 per barel jika kondisi kembali normal. Namun mereka mengingatkan, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga menembus US$100 dalam beberapa bulan ke depan.

Di tengah situasi ini, pembicaraan damai dijadwalkan berlangsung di Islamabad akhir pekan ini. Wakil Presiden JD Vance bersama utusan senior Steve Witkoff dan Jared Kushner akan menghadiri pertemuan tersebut, dengan isu Selat Hormuz diperkirakan menjadi fokus utama negosiasi.

Trump menegaskan pasukan AS akan tetap berada di kawasan hingga Iran mematuhi apa yang ia sebut sebagai “perjanjian nyata.” Ia juga mengancam akan melancarkan serangan yang “lebih besar, lebih baik, dan lebih dahsyat dari yang pernah ada sebelumnya” jika kesepakatan tidak dijalankan.