Presiden Prabowo Subianto. BPMI Setpres.


Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana besar pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan, disertai penutupan 13 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik PLN. 

Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari percepatan transisi energi nasional sekaligus upaya menekan impor bahan bakar minyak (BBM).

Pengumuman itu disampaikan saat peresmian pabrik perakitan kendaraan listrik milik PT VKTR Sakti Industries di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). Pemerintah menargetkan langkah ini dapat menghemat sekitar 200.000 barel BBM per hari, setara sekitar 20% dari total impor BBM Indonesia saat ini.

Prabowo menyebut pengurangan ketergantungan terhadap impor energi menjadi prioritas. “Mungkin kita dua-tiga tahun lagi kita tidak perlu impor BBM sama sekali,” ujarnya dalam sambutan.

Dorongan percepatan transisi energi ini muncul di tengah tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga minyak dunia. Jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial yang memengaruhi pasokan dan harga energi global.

Dalam taklimat Rapat Kerja Pemerintah di Istana Negara sehari sebelumnya, Prabowo juga menegaskan kebijakan subsidi BBM tetap difokuskan bagi kelompok berpenghasilan rendah. Sekitar 80% masyarakat akan tetap menerima subsidi, sementara kelompok mampu diminta membayar harga pasar.

Ia menekankan subsidi harus tepat sasaran. “Untuk BBM yang bersubsidi kita akan pertahankan untuk rakyat kecil dan rakyat miskin. Lu udah kaya minta subsidi lagi, ya nggaklah, yang kita bela rakyat miskin,” kata Prabowo.

Pemerintah menilai ketahanan energi domestik relatif aman meski terjadi gejolak global, karena pasokan minyak dan gas Indonesia tidak bergantung signifikan pada jalur distribusi di kawasan konflik.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menyoroti posisi strategis Indonesia dalam jalur perdagangan energi dunia. Sekitar 70% kebutuhan energi dan arus perdagangan Asia Timur melewati perairan Indonesia, termasuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.

“Perang di Timur Tengah membuktikan satu Selat Hormuz itu menentukan hidup banyak bangsa, menentukan harga minyak,” ujarnya.

Pabrik VKTR Sakti Industries yang diresmikan memiliki kapasitas produksi sekitar 3.000 unit kendaraan listrik. Pemerintah menargetkan pengembangan industri kendaraan listrik terus berlanjut, termasuk produksi massal mobil sedan listrik pada 2028 sebagai bagian dari transformasi energi nasional.