![]() |
| Ilustrasi pandangan dari atas (aerial view) dari sebuah kapal tanker. UNSPLASH |
Pemerintah mulai merealisasikan impor minyak mentah dari Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan memenuhi kebutuhan bahan baku kilang domestik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pengiriman crude oil dari AS telah berjalan. Pasokan ini ditujukan untuk memperkuat cadangan energi di tengah dinamika pasar global yang masih fluktuatif.
Selama ini, sebagian impor minyak mentah Indonesia masih bergantung pada kawasan Teluk Arab, dengan sekitar 20% pasokan melewati Selat Hormuz—jalur yang rentan terhadap gejolak geopolitik. Diversifikasi sumber pasokan pun ditempuh, termasuk menjajaki suplai dari negara-negara seperti Angola, Nigeria, hingga AS.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kerja sama dengan AS terbatas pada minyak mentah, bukan produk bahan bakar minyak siap pakai.
"Amerika sudah mulai berjalan, sudah mulai. (Untuk) BBM tidak, BBM kita tidak mengambil dari sana, minyak mentah, crude-nya,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Ia tidak merinci volume kontrak impor tersebut, namun memastikan langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Cadangan energi dalam negeri saat ini dilaporkan berada di level relatif aman. Stok BBM tercatat di atas 20 hari, sementara LPG berada di atas 10 hari.
Bahlil menyebut pemerintah terus mencari sumber energi yang paling efisien untuk menjaga kesinambungan pasokan. “Saya ingin menyampaikan, masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM, alhamdulillah kita sudah lewati,” katanya.
Di saat bersamaan, pemerintah juga mempercepat implementasi program mandatori Biodiesel 50 (B-50) yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli. Program ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap impor minyak dan memperkuat posisi energi nasional.

0Komentar