![]() |
| Sebuah kapal barang atau cargo ship berukuran besar yang sedang berada di laut lepas. EPA |
Amerika Serikat menjatuhkan putaran sanksi baru terhadap lebih dari dua lusin individu, perusahaan, dan kapal yang terkait dengan pengusaha perkapalan minyak Iran, Mohammad Hossein Shamkhani. Langkah ini menandai eskalasi tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Sanksi yang diumumkan Kementerian Keuangan AS pada Rabu tersebut merupakan bagian dari inisiatif Economic Fury, yang menargetkan jaringan penjualan minyak senilai miliaran dolar. Menurut otoritas AS, jaringan ini menyalurkan minyak mentah Iran dan Rusia melalui perusahaan-perusahaan cangkang yang berbasis di Uni Emirat Arab, India, dan Kepulauan Marshall.
Mohammad Hossein Shamkhani diketahui merupakan putra dari Ali Shamkhani, pejabat keamanan senior Iran yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel di Teheran pada akhir Februari lalu. Washington menilai jaringan bisnis yang dikelolanya berperan penting dalam mempertahankan aliran pendapatan energi Iran di tengah tekanan sanksi internasional.
Departemen Keuangan AS menyebut jaringan tersebut memanfaatkan perusahaan administratif, konsultasi, dan pengiriman yang tampak sah untuk mengelola armada kapal serta menyamarkan aktivitas perdagangan minyak.
Sejumlah entitas yang dikenai sanksi antara lain Oriel Group yang berbasis di Uni Emirat Arab, Corplinx Consultancy, dan Meritron DMCC—perusahaan cangkang yang berupaya membeli dua kapal baru dari Korea Selatan senilai puluhan juta dolar.
Selain itu, Fleet Tanqo Private Limited yang berbasis di India juga masuk dalam daftar sanksi setelah disebut mengelola kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 20 kargo produk minyak Rusia sepanjang 2025.
Langkah ini melanjutkan penetapan sanksi terhadap jaringan Shamkhani pada Juli 2025, yang saat itu menjadi tindakan tunggal terbesar Departemen Keuangan AS terkait Iran sejak 2018.
Dalam pengumuman yang sama, Washington juga menjatuhkan sanksi kepada warga negara Iran Seyed Naiemaei Badroddin Moosavi, yang disebut sebagai pemodal Hezbollah, beserta tiga perusahaan yang terlibat dalam skema pencucian uang melalui penjualan minyak Iran dengan imbalan emas dari Venezuela.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari yang diterbitkan pada 20 Maret. Kebijakan tersebut sebelumnya memungkinkan sekitar 140 juta barel minyak Iran yang telah berada di lautan untuk tetap memasuki pasar global. Pengecualian itu dijadwalkan berakhir pada 19 April.
Bessent juga mengungkapkan bahwa Departemen Keuangan telah mengirimkan surat kepada dua bank di China untuk memperingatkan potensi sanksi sekunder.
Dalam jumpa pers di Gedung Putih yang dikutip Bloomberg, ia menegaskan, “Kami memberi tahu mereka bahwa jika kami dapat membuktikan ada aliran uang Iran melalui rekening Anda, maka kami siap menjatuhkan sanksi sekunder.”
China selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran, menyerap lebih dari 90% ekspor negara tersebut, sehingga kebijakan ini berpotensi memengaruhi arus perdagangan energi global.
Pemberlakuan sanksi terbaru ini berlangsung ketika AS memperketat pembatasan lalu lintas maritim di Selat Hormuz menyusul gagalnya negosiasi damai pada akhir pekan lalu. Keputusan untuk tidak memperpanjang pengecualian sanksi menandai berakhirnya pendekatan sebelumnya yang memanfaatkan pembebasan sementara guna menjaga stabilitas pasar energi di tengah konflik dengan Iran.
Sejak meluncurkan kebijakan tekanan maksimum, Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 1.000 individu, kapal, dan pesawat yang dinilai terlibat dalam jaringan ekonomi Iran.

0Komentar