Alat berat menghancurkan dan memindahkan puing-puing selama operasi penyortiran dan daur ulang di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 14 April 2026. REUTERS/Ramadhan Abed


Di Khan Younis, Gaza selatan, pekerja Palestina mulai mengubah puing-puing bangunan yang hancur menjadi material untuk memperbaiki jalan. Inisiatif ini dijalankan di tengah mandeknya skema rekonstruksi formal dan menjadi salah satu langkah awal pemulihan infrastruktur di wilayah tersebut.

Program yang dikelola United Nations Development Programme itu mengerahkan alat berat untuk mengumpulkan, memilah, dan menghancurkan beton serta besi dari reruntuhan. Material yang diolah kemudian digunakan untuk mengaspal jalan dan menyiapkan lahan bagi penampungan sementara serta dapur umum.

Skala kerusakan disebut sangat besar. Kepala kantor UNDP di Gaza, Alessandro Mrakic, memperkirakan terdapat sekitar 61 juta ton puing tersebar di seluruh wilayah. Sejauh ini, sekitar 287.000 ton telah disingkirkan.

Dalam keterangannya kepada Reuters, Mrakic mengatakan proses daur ulang sudah berjalan seiring pengumpulan material. 

“Selain mengumpulkan puing, kami sudah mulai memilah, sudah mulai menghancurkan, dan dengan demikian menggunakannya kembali,” ujarnya. Ia menambahkan, volume yang diolah saat ini baru sebagian kecil dari total kerusakan.

Bahaya di balik puing-puing

Pekerjaan berlangsung dalam kondisi berisiko tinggi. Setiap lokasi harus diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada bahan peledak yang belum meledak, dengan melibatkan layanan penjinak ranjau PBB.

Seorang pekerja Palestina memecahkan beton saat mengerjakan puing-puing di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 19 April 2026. REUTERS/Ramadhan

Bagi pekerja lokal, ancaman tersebut menjadi bagian dari keseharian. Ibrahim al-Sarsawi, 32 tahun, mengaku tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. 

“Saya tidak bisa menemukan sumber penghasilan lain, itulah mengapa saya melakukan pekerjaan ini. Kamu bisa saja terluka,” katanya.

Ia juga menyebut lokasi kerja yang dekat dengan garis gencatan senjata Israel-Hamas membuat mereka tetap berisiko terkena tembakan nyasar.

UNDP memperkirakan proses pembersihan total dapat memakan waktu hingga tujuh tahun, dengan syarat akses alat berat dan pasokan bahan bakar tersedia secara stabil. Kondisi tersebut masih sulit terpenuhi di tengah pembatasan yang diberlakukan Israel.

Rekonstruksi mandek

Upaya di lapangan berjalan di tengah kebuntuan rencana rekonstruksi yang lebih luas. Proposal yang dipimpin Amerika Serikat, yang diungkap oleh Jared Kushner, belum memperoleh dukungan pendanaan.

Sejumlah negara donor menahan komitmen karena isu pelucutan senjata Hamas belum terselesaikan. Beberapa pihak juga menginginkan dana rekonstruksi dikelola langsung oleh PBB, bukan oleh dewan yang diusulkan AS.

Warga Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan tempat tinggal yang hancur selama ofensif Israel selama dua tahun, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 15 April 2026. REUTERS/Ramadan Abed

Hingga awal 2026, belum ada negara Barat yang menyatakan komitmen pendanaan. Konferensi di Washington untuk menggalang investasi sektor swasta juga belum memiliki jadwal pasti.

Penilaian bersama Uni Eropa, PBB, dan Bank Dunia menyebut kebutuhan pemulihan Gaza mencapai sekitar US$71,4 miliar dalam satu dekade, dengan US$35,2 miliar dialokasikan untuk infrastruktur fisik.

Di tengah kondisi tersebut, warga yang mengungsi mulai menghadapi tantangan baru. Sobhi Dawoud, 60 tahun, yang kini tinggal di kamp tenda di Khan Younis, menggambarkan situasi pascaperang sebagai fase yang berbeda.

“Perang memang sudah berakhir, tapi inilah awal dari perang baru,” ujarnya. “Rekonstruksi, awal dari pembersihan puing-puing, serta pembangunan infrastruktur, listrik, air, saluran pembuangan, sekolah, dan jalan-jalan.”