Fasilitas produksi milik PT Pupuk Indonesia (Persero), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang fokus pada industri pupuk dan bahan kimia. PUPUK INDONESIA


PT Pupuk Indonesia (Persero) mematok target produksi urea sebesar 7,8 juta ton pada 2026 guna mengamankan pasokan pangan nasional. Langkah ini diambil sebagai strategi antisipasi terhadap kerentanan rantai pasok global yang dipicu oleh tensi geopolitik, terutama risiko gangguan distribusi di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 30% kebutuhan urea dunia.

Volume produksi tersebut dirancang melampaui kebutuhan domestik yang berada di angka 6,3 juta ton. Surplus produksi ini menjadi bantalan penting bagi Indonesia untuk tetap mandiri di sektor pupuk, mengingat ketersediaan gas alam dalam negeri saat ini masih menjadi tulang punggung utama operasional pabrik.

Bersamaan dengan penguatan ketahanan pangan, perusahaan pelat merah ini mempercepat transisi energi melalui pengembangan portofolio clean ammonia. Proyek ini mencakup produksi green ammonia yang bersumber dari energi terbarukan serta blue ammonia yang mengintegrasikan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menekankan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap tuntutan industri global yang mulai bergeser ke arah keberlanjutan.

"Transformasi menuju ekonomi rendah karbon itu bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keniscayaan. Karena itu, industri harus tetap berjalan, namun di saat yang sama target-target iklim juga harus tetap dicapai," ujar Yehezkiel dalam IDE Katadata Future Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Pupuk Indonesia juga tengah membidik kemandirian energi dengan rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur. Proyek ini diproyeksikan untuk menyokong kebijakan pemerintah terkait mandat B50. 

Di tingkat akar rumput, perusahaan menginisiasi program nature-based solutions (NBS) dengan memanfaatkan lahan tidur untuk penyerapan emisi yang melibatkan kelompok tani.

Upaya dekarbonisasi ini merupakan bagian dari roadmap jangka panjang untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad, sebelumnya telah menggarisbawahi target penurunan emisi sebesar 28% pada 2030. Melalui efisiensi operasional dan revitalisasi pabrik yang sedang berjalan, manajemen optimistis angka tersebut bisa melampaui target awal hingga menyentuh 31-32%.

Strategi ini dibagi ke dalam dua fase besar. Pada tahap pertama hingga 2030, perusahaan menargetkan pengurangan 4,25 juta ton CO2 ekuivalen. Sementara pada fase kedua yang berakhir di 2060, target pengurangan ditingkatkan secara signifikan menjadi 19,2 juta ton CO2 ekuivalen guna memastikan netralitas karbon sepenuhnya.

Komitmen pemenuhan pasar dalam negeri tetap menjadi prioritas tertinggi di tengah ambisi hijau tersebut.

"Komitmen kami adalah memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu," tutur Yehezkiel.