Drone kamikaze HESA Shahed-136, yang juga dikenal sebagai Geran-2 dalam layanan Rusia. GLOBAL IMAGES UKRAINE


Komponen elektronik asal Amerika Serikat terus mengalir ke lini produksi senjata Rusia meski sanksi internasional telah berjalan lebih dari empat tahun. Temuan terbaru pada drone Shahed yang dijatuhkan di Ukraina akhir Maret 2026 menunjukkan keberadaan cip dari AMD, Texas Instruments, dan STMicroelectronics yang diproduksi pada akhir 2025. 

Data ini mengonfirmasi bahwa teknologi Barat hanya membutuhkan waktu hitungan bulan untuk berpindah dari pabrik menuju medan perang.
Vladyslav Vlasiuk, komisaris kebijakan sanksi Presiden Volodymyr Zelenskyy, mengungkapkan bahwa banyak komponen tersebut terbukti asli. 

“Dalam drone-drone tersebut terdapat komponen Amerika yang tampaknya baru diproduksi pada akhir 2025,” ujar Vlasiuk saat berkunjung ke Washington. 

Ia menekankan bahwa volume cip yang dibutuhkan Rusia sebenarnya relatif kecil; pasokan tertentu sudah cukup untuk menopang produksi hingga 30.000 unit Shahed sepanjang tahun 2024.

Jalur pengadaan yang adaptif

Dominasi teknologi AS dalam sistem persenjataan Rusia bukan fenomena baru, namun skalanya kian struktural. Riset Royal United Services Institute (RUSI) dan Kyiv School of Economics menunjukkan bahwa sekitar 71% hingga 72% komponen asing dalam senjata Rusia berasal dari AS. 

Laporan investigasi New York Times bahkan mencatat hampir US$4 miliar cip semikonduktor yang terkena kontrol ekspor tetap mengalir ke Rusia melalui lebih dari 6.000 perusahaan perantara.

Rantai pasok ini mengandalkan celah "last mile", di mana produsen menjual produk secara legal ke distributor internasional sebelum akhirnya berpindah tangan ke jaringan perusahaan cangkang. Negara-negara seperti Armenia, Kazakhstan, Turki, hingga Uni Emirat Arab menjadi simpul transit utama. Ekspor Armenia ke Rusia, misalnya, melonjak drastis mencapai US$3,4 miliar pada 2023.

Damien Spleeters dari Conflict Armament Research (CAR) menjelaskan kerumitan pengawasan distribusi ini di hadapan Senat AS. 

“Perusahaan-perusahaan Barat merancang chip yang diproduksi oleh pabrik khusus di negara lain, lalu menjualnya dalam jumlah jutaan, dengan visibilitas yang sangat terbatas terhadap rantai pasok di luar satu atau dua lapisan distribusi,” ujar Spleeters.

Kebuntuan regulasi

Kegagalan membendung arus teknologi ini memicu konsekuensi hukum. Pada Desember 2025, Intel, AMD, dan Texas Instruments menghadapi gugatan yang menuduh mereka melakukan willful ignorance atau pengabaian yang disengaja. Gugatan tersebut merujuk pada serangan Rusia menggunakan rudal Kh-101 dan Iskander yang mengandung komponen dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Di Washington, kritik tajam datang dari Senator Richard Blumenthal yang menyebut produsen cip secara sadar gagal mencegah pemanfaatan teknologi mereka oleh pihak lawan. Namun, penegakan hukum terhambat oleh keterbatasan sumber daya. 

Bureau of Industry and Security (BIS) dilaporkan kewalahan memantau jaringan distribusi yang canggih dengan anggaran terbatas dan teknologi pemantauan yang usang.

George Barros dari Institute for the Study of War menyoroti perlunya sanksi yang lebih agresif terhadap para fasilitator. 

“Selama OFAC tidak mengenakan hukuman serius kepada perusahaan-perusahaan yang mendukung rantai pasokan penghindaran sanksi, barang-barang Amerika akan terus menemukan pembeli internasional yang bersedia mengekspor kembali barang tersebut ke Rusia,” kata Barros.

Efektivitas kontrol mandiri

Meski lanskap pengadaan masih bocor, terdapat indikasi bahwa pengetatan internal perusahaan bisa membuahkan hasil. 

Vlasiuk mencatat hilangnya komponen dari NXP, produsen asal Belanda, dalam temuan drone terbaru setelah perusahaan tersebut memperketat kontrol ekspornya. Hal ini menunjukkan bahwa sanksi bukannya tidak bisa bekerja, melainkan bergantung pada komitmen kepatuhan di level korporasi.

Rep. Joe Wilson dari Komite Angkatan Bersenjata DPR AS menegaskan bahwa keterlibatan teknologi domestik dalam persenjataan asing adalah isu mendesak. 

“Ketika kita melihat perusahaan-perusahaan Amerika disebutkan dalam sistem-sistem ini, ini adalah sesuatu yang harus ditangani, dan informasi apa pun yang bisa kita terima, harus kita tindaklanjuti,” ucapnya pada 16 April.

Hingga kini, Rusia diperkirakan telah mengimpor sekitar 2,2 juta komponen elektronik sepanjang 2025. Sebagian besar merupakan produk asli yang diproduksi di fasilitas perusahaan Barat yang berlokasi di Asia, sebuah ironi dari efisiensi rantai pasok global yang kini berbalik menjadi tantangan keamanan nasional.