suasana di dalam sebuah gerai atau pameran BYD, salah satu produsen kendaraan listrik terbesar di dunia asal China. CNEPOST


Produsen kendaraan listrik raksasa asal China, BYD, kini tengah berupaya menembus jantung kebijakan industri otomotif Benua Biru dengan mengajukan keanggotaan dalam European Automobile Manufacturers' Association (ACEA). Jika permohonan ini diterima, BYD akan mencetak sejarah sebagai perusahaan China pertama yang bergabung dalam kelompok lobi paling berpengaruh di Eropa tersebut.

Langkah strategis ini diambil di tengah eskalasi ketegangan dagang antara Beijing dan Brussels. Saat ini, BYD dibayangi tambahan tarif impor sebesar 17% untuk unit EV buatan China, melengkapi bea masuk standar Uni Eropa yang sudah berada di angka 10%. 

Dengan bergabung ke ACEA, BYD berpeluang memiliki suara langsung dalam merumuskan regulasi dan kebijakan otomotif yang selama ini didominasi oleh pemain lama seperti Volkswagen, BMW, dan Stellantis.

Hingga saat ini, pihak asosiasi belum memberikan kepastian mengenai status pengajuan tersebut. "Keputusan mengenai keanggotaan BYD belum dibuat," ungkap seorang juru bicara ACEA singkat, sebagaimana dikutipa dari Investing.com .

Keinginan BYD masuk ke lingkaran dalam industri Eropa sejalan dengan performa penjualannya yang terus meroket. Mengacu pada data ACEA, registrasi kendaraan BYD di Uni Eropa melonjak drastis hingga 179% sepanjang dua bulan pertama tahun 2026 dengan total 29.291 unit. Angka ini secara impresif melampaui catatan Tesla selama dua bulan berturut-turut.

Secara kumulatif, di pasar Eropa yang lebih luas termasuk Inggris dan negara-negara EFTA, BYD telah mendistribusikan 36.069 unit sejak awal tahun. Agresi ini bukan sekadar soal ekspor; BYD tengah memperkuat basis produksinya di tanah Eropa melalui pembangunan pabrik di Hungaria, Turki, dan melirik potensi investasi di Spanyol.
Ambisi ini juga diperkuat dengan keterlibatan BYD dalam standardisasi global. 

Maret lalu, perusahaan resmi menjadi bagian dari International Automotive Task Force, lembaga yang menetapkan standar manajemen kualitas inti bagi industri otomotif dunia.

Meski ekspansi ini terlihat masif, jalan BYD tidak sepenuhnya mulus karena faktor sentimen persaingan. Sejumlah produsen Eropa secara konsisten menyuarakan kekhawatiran terkait subsidi negara dari pemerintah China yang dianggap mendistorsi kompetisi pasar sehat. 

Polemik inilah yang memicu Uni Eropa memberlakukan tarif balasan pada 2024.
Guna meredam konflik, Uni Eropa dan China sebenarnya telah mencapai kesepakatan kerangka kerja pada Januari 2026. Skema ini memungkinkan produsen China menghindari bea masuk hukuman dengan syarat mematuhi sistem harga minimum yang telah disepakati.

Kabar mengenai ketertarikan China tidak berhenti di BYD saja. Menurut laporan Investing.com, Chery Automobile juga dikabarkan sedang memantau peluang untuk bergabung dengan ACEA. Situasi ini memicu perdebatan mengenai identitas ACEA sebagai "suara industri otomotif Uni Eropa", terutama setelah Stellantis memutuskan untuk bergabung kembali ke dalam asosiasi tahun ini.

BYD sendiri memasang target tinggi dengan ambisi menjual 1,5 juta kendaraan di pasar luar negeri sepanjang 2026, naik signifikan dari capaian 1,05 juta unit pada tahun sebelumnya. Keberadaan kursi di meja ACEA akan menjadi instrumen krusial bagi BYD dalam menavigasi pasar Eropa yang kian kompetitif dan sarat kepentingan politik.