Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperkenalkan sistem komando militer berbasis iPad yang menampilkan kondisi medan perang secara real-time dalam pidatonya di Parlemen Inggris. Dalam kunjungan yang sama, ia juga menyerahkan perangkat tersebut kepada Raja Charles III sebagai simbol kerja sama pertahanan yang kian erat.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Kyiv memperdalam hubungan militer dengan Inggris di tengah kekhawatiran bahwa perhatian Barat mulai terpecah oleh konflik lain di Timur Tengah.
Kunjungan Zelenskyy ke London juga diwarnai pembicaraan strategis dengan Perdana Menteri Keir Starmer serta pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Jendela digital ke medan perang
Dalam pidatonya, Zelenskyy menggambarkan sistem tersebut sebagai “jendela langsung” ke operasi militer Ukraina. Perangkat lunak yang berjalan di iPad standar itu digunakan oleh lingkaran inti kepemimpinan, termasuk perdana menteri, menteri pertahanan, dan komandan militer.
Ia mengatakan sistem tersebut memungkinkan pemantauan berbagai aspek pertempuran, mulai dari pergerakan pasukan hingga lintasan rudal dan efektivitas pertahanan udara.
"Sistem ini memungkinkan kami melihat garis depan di Ukraina, bahkan setiap musuh yang tewas — dengan bukti video," kata Zelenskyy di hadapan anggota parlemen Inggris.
Ia menambahkan, sekitar 90% kerugian Rusia di garis depan kini disebabkan oleh drone Ukraina. Selama musim dingin terakhir, menurutnya, Rusia kehilangan lebih dari 92.000 personel tewas dan terluka parah, yang diklaim telah diverifikasi melalui rekaman video.
Untuk menggambarkan kemampuan sistem tersebut, Zelenskyy menyinggung serangan Rusia pada 14 Maret yang melibatkan hampir 500 senjata udara, termasuk ratusan drone dan puluhan rudal.
"Dan kami berhasil menembak jatuh sebagian besar dari mereka," ujarnya, seraya menjelaskan bahwa sistem tersebut menampilkan respons pertahanan udara secara langsung di berbagai wilayah Ukraina.
Kemitraan drone dengan Inggris
Kunjungan ini juga menghasilkan kesepakatan baru antara Inggris dan Ukraina untuk memproduksi serta mengekspor teknologi drone secara bersama. Pemerintah Inggris menyebut kerja sama ini menggabungkan pengalaman tempur Ukraina dengan kapasitas industri Inggris.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Inggris melisensikan produksi drone pencegat buatan Ukraina, termasuk model Octopus, di wilayahnya. London juga menjanjikan dana sebesar £500.000 untuk mendukung pusat keunggulan kecerdasan buatan di Kementerian Pertahanan Ukraina.
Zelenskyy mengatakan Ukraina kini mampu memproduksi setidaknya 2.000 drone pencegat per hari dan siap memasok sekitar setengahnya ke negara sekutu.
Ia juga menyebut lebih dari 200 spesialis pertahanan udara Ukraina telah dikirim ke Timur Tengah untuk berbagi pengalaman menghadapi drone buatan Iran.
Kekhawatiran fokus Barat bergeser
Kunjungan ini berlangsung saat Eropa mencermati dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari. Sejumlah pejabat khawatir konflik tersebut mengalihkan perhatian dan sumber daya dari Ukraina.
Zelenskyy secara terbuka mengkritik keputusan Washington yang mencabut sebagian sanksi minyak Rusia, dengan peringatan bahwa langkah itu dapat memberi keuntungan finansial bagi Moskwa.
Starmer turut menyuarakan kekhawatiran serupa. "Putin tidak boleh menjadi pihak yang diuntungkan dari konflik Iran," ujarnya.

0Komentar