![]() |
| Ilustrasi sebuah manometer atau alat pengukur tekanan yang terpasang pada infrastruktur pipa gas bumi. | SHUTTERSTOCK |
Kremlin menyatakan sedang mengkaji kemungkinan menghentikan sisa pasokan minyak dan gas Rusia ke pasar Uni Eropa secara sepihak, di tengah gejolak pasar energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan keputusan tersebut belum final dan masih dalam tahap analisis mendalam. Ia merujuk pada arahan Presiden Vladimir Putin agar pemerintah dan perusahaan energi menimbang opsi keluar lebih awal dari pasar Eropa.
“Terkait perintah dari Presiden untuk mempertimbangkan kemungkinan penarikan diri lebih awal dari pasar gas Eropa, masalah ini sedang dipertimbangkan dan memerlukan analisis yang cukup mendalam,” kata Peskov kepada wartawan, seperti dikutip kantor berita Rusia TASS.
Langkah ini muncul saat hubungan energi Rusia–Eropa terus merenggang sejak invasi ke Ukraina dan rangkaian sanksi Barat. Uni Eropa sendiri telah merancang pelarangan bertahap terhadap impor energi Rusia, termasuk rencana menghentikan seluruh impor gas pada 2027.
Dalam wawancara dengan penyiar negara Rusia VGTRK awal Maret, Putin menyebut pasar alternatif kini semakin terbuka. Ia menilai Rusia tidak perlu menunggu hingga aksesnya ke Eropa ditutup sepenuhnya.
“Pasar-pasar lain sedang bermunculan, dan mungkin lebih menguntungkan bagi kita untuk menghentikan pasokan gas kita ke Eropa sekarang dan fokus membangun kehadiran di pasar-pasar baru ini,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan agar Rusia tidak berada dalam posisi reaktif terhadap kebijakan Eropa. “Jangan menunggu sampai pintu dibanting demonstratif di hadapan kita,” kata Putin dalam pernyataan terpisah beberapa hari kemudian.
Di saat bersamaan, konflik yang melibatkan Iran dan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk memperketat pasokan energi global. Penutupan hampir total Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia—mendorong lonjakan harga.
Situasi ini menciptakan apa yang oleh Moskwa dilihat sebagai “pasar penjual”. Putin menyebut ada pembeli yang siap menyerap gas Rusia dengan harga tinggi akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Data yang dilaporkan sejumlah media internasional menunjukkan harga minyak mentah Rusia jenis Urals naik tajam dari sekitar US$40 per barel pada Desember menjadi sekitar US$72. Sementara harga acuan global telah melampaui US$100 per barel.
Kondisi ini terjadi ketika Eropa berada dalam posisi rentan. Cadangan gas dilaporkan turun ke sekitar 27%, jauh di bawah rata-rata musiman. Untuk mengamankan pasokan musim dingin, kawasan tersebut diperkirakan membutuhkan ratusan kargo LNG tambahan.
Peskov juga mengatakan hingga kini belum ada sinyal dari pemerintah Eropa untuk membuka kembali dialog energi dengan Rusia. Menurutnya, Moskwa tetap terbuka, namun hanya untuk kerja sama jangka panjang tanpa tekanan politik.
Uni Eropa tetap pada posisinya. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menilai kembali bergantung pada energi Rusia akan menjadi kesalahan strategis. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menegaskan krisis di Selat Hormuz tidak menjadi alasan untuk melonggarkan sanksi terhadap Moskwa.
Sejumlah laporan media Eropa menyebut, di balik sikap resmi tersebut, ada pengakuan di kalangan pejabat bahwa dinamika konflik saat ini justru memberi keuntungan ekonomi bagi Rusia di pasar energi global.

0Komentar