![]() |
| Vladimir Zelenskyy, Presiden Ukraina. | OFFICE OF THE PRESIDENCE—UKRAINE |
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan komponen buatan Rusia ditemukan dalam drone Shahed Iran yang digunakan dalam serangan terhadap aset militer Amerika Serikat dan negara-negara Arab di Timur Tengah. Ia juga menuduh Moskwa memberikan informasi intelijen kepada Teheran yang dapat membantu penargetan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut.
Dalam pidato malam pada 7 Maret, Zelensky menyebut temuan itu sebagai bukti keterlibatan Rusia dalam konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah.
“Dalam drone Shahed yang digunakan di Timur Tengah — menargetkan negara-negara Arab dan Amerika di kawasan tersebut — ada bukti komponen Rusia,” kata Zelensky.
Ia menambahkan bahwa Rusia dan Iran kini bertindak hampir seirama dalam berbagai konflik. “Rezim Rusia dan Iran melakukan pembunuhan dengan cara yang hampir tersinkronisasi, baik di sini di Eropa maupun di Timur Tengah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan The Washington Post yang kemudian dikonfirmasi oleh kantor berita Associated Press. Laporan itu menyebut Rusia membagikan data intelijen kepada Iran yang dapat membantu Teheran menargetkan kapal perang, pesawat, dan aset militer AS lainnya di kawasan Timur Tengah.
Dua pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen itu mengatakan kepada Associated Press bahwa Moskwa memang memberikan data lokasi pasukan AS. Namun, mereka menegaskan tidak ada bukti Rusia secara langsung mengarahkan Iran tentang bagaimana informasi tersebut harus digunakan.
Gedung Putih merespons laporan itu dengan nada meremehkan. Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pembagian intelijen tersebut “jelas tidak membuat perbedaan”.
Menurutnya, pasukan AS saat ini sedang “menghancurkan” kemampuan militer Iran di kawasan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyatakan pemerintah memantau setiap kemungkinan kerja sama antara Rusia dan Iran. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS, ia mengatakan, “Kami memantau segalanya, dan setiap interaksi yang tidak pantas, baik terbuka maupun terselubung, sedang ditangani dengan tegas.”
Di tengah meningkatnya ancaman drone Iran, Ukraina kini mencoba memposisikan diri sebagai mitra penting bagi negara-negara yang menghadapi serangan tersebut.
Zelensky mengatakan pemerintahnya telah menerima permintaan resmi dari AS untuk membantu upaya pertahanan terhadap drone Shahed. Kyiv kemudian memerintahkan pengerahan spesialis dan peralatan untuk mendukung operasi tersebut.
Selama hampir empat tahun menghadapi invasi Rusia, Ukraina mengembangkan teknologi drone pencegat berbiaya rendah serta taktik perang elektronik untuk melawan drone rancangan Iran yang digunakan oleh pasukan Rusia. Sistem itu, menurut Kyiv, mampu mencegat hingga 90% serangan drone.
Laporan kantor berita Reuters menyebut AS dan Qatar kini berdiskusi dengan Ukraina mengenai kemungkinan pengadaan drone pencegat buatan Kyiv. Opsi tersebut dipertimbangkan sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan rudal pertahanan udara yang harganya bisa mencapai jutaan dolar per unit.
Ancaman drone Iran juga dibahas Zelensky dalam percakapannya dengan putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, pada 7 Maret. Pembicaraan itu berlangsung setelah serangan Iran merusak infrastruktur sipil di Arab Saudi dan memaksa penutupan kilang minyak domestik terbesar serta terminal ekspor negara tersebut.
“Pertahanan juga harus dipersatukan,” kata Zelensky. “Kehidupan di Eropa dan di Timur Tengah sama-sama layak mendapat perlindungan yang efektif.”

0Komentar