![]() |
| Putra Ayatollah Ali Khamenei, Seyyed Mojtaba Khamenei yang dikabarkan telah disiapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. | WIKIMEDIA COMMONS |
Serangan rudal dan drone kembali dilancarkan Iran ke Israel dan sejumlah negara Arab Teluk pada Senin dini hari (9/3), beberapa jam setelah Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Serangan ini menjadi operasi militer pertama sejak putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei itu mengambil alih posisi tertinggi dalam struktur kekuasaan Republik Islam.
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, menayangkan gambar proyektil yang bertuliskan slogan “Atas perintahmu, Sayyid Mojtaba”. Gelar kehormatan tersebut merujuk pada status keagamaan Syiah dan dinilai sebagai penegasan kesetiaan militer Iran kepada pemimpin baru berusia 56 tahun itu.
Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan oleh Majelis Ahli Iran yang beranggotakan 88 ulama. Keputusan tersebut menjadikannya pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Pada malam yang sama, sejumlah negara di kawasan Teluk melaporkan masuknya rudal dan drone dari arah Iran. Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Irak menyatakan sistem pertahanan udara mereka mendeteksi proyektil yang melintas di wilayah masing-masing, menurut laporan Radio Free Europe/Radio Liberty.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei didukung kuat oleh Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan “kepatuhan penuh dan pengorbanan diri” kepada pemimpin baru tersebut.
Menurut laporan The New York Times, IRGC menggambarkan kepemimpinan Mojtaba sebagai “fajar baru dan babak segar bagi revolusi”.
Meski tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal, Mojtaba selama dua dekade disebut menjalankan banyak fungsi administratif di kantor ayahnya. Ia juga memiliki hubungan dekat dengan IRGC sejak masa Perang Iran-Irak pada 1980-an.
Penunjukan itu terjadi di tengah tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Presiden AS Donald Trump sebelumnya meremehkan figur Mojtaba Khamenei dan mengatakan Washington seharusnya memiliki suara dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Israel juga mengeluarkan peringatan serupa. Menteri pertahanan negara itu mengatakan siapa pun yang menggantikan kepemimpinan Iran tetap akan menjadi “target”.
Di kawasan Teluk, dampak konflik semakin terasa pada infrastruktur sipil. Bahrain menuduh Iran menyerang fasilitas desalinasi air dengan drone pada Minggu. Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyebut pasukan Iran “menembaki lokasi-lokasi sipil secara membabi buta”, seperti dilaporkan Associated Press.
Otoritas air dan listrik Bahrain mengatakan fasilitas tersebut tetap beroperasi meski mengalami kerusakan.
Arab Saudi juga melaporkan korban jiwa pertama sejak konflik meluas. Sebuah proyektil militer menghantam kawasan permukiman dan menewaskan dua pekerja asing asal India dan Bangladesh. Dua belas orang lainnya dilaporkan terluka.
Pertahanan udara Saudi pada saat yang sama mencegat drone yang menuju ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco, fasilitas yang memproduksi sekitar satu juta barel minyak mentah per hari.
Uni Emirat Arab menyatakan bahwa sejak konflik meningkat pada 28 Februari, sistem pertahanan negara itu telah mendeteksi 1.422 drone Iran dan 238 rudal balistik. Sebagian besar berhasil dicegat, tetapi beberapa di antaranya tetap menimbulkan kerusakan.
Kuwait melaporkan dua perwira militernya tewas saat menjalankan tugas, sementara Qatar menyatakan wilayahnya diserang beberapa gelombang rudal dan drone.
Kritik juga datang dari organisasi regional. Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Abouel Gheit mengecam apa yang disebutnya sebagai “kebijakan sembrono” Iran karena menyerang negara-negara Arab.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan agresi berbahaya”.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa “Iran harus membayar harga atas serangan terang-terangan terhadap rakyat kami”, seperti dikutip Euronews.
Di dalam negeri Iran, dinamika politik turut memengaruhi situasi konflik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada akhir pekan sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas meningkatnya ketegangan regional. Namun pernyataan itu kemudian berubah setelah tekanan dari kelompok garis keras di dalam negeri.
Pezeshkian kemudian menyatakan Iran akan memperluas serangan terhadap target-target militer Amerika Serikat di kawasan.

0Komentar