![]() |
| Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat konferensi pers untuk wartawan di Kyiv, 7 November 2025. Foto: PAP/EPA/STRINGER |
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan negaranya menerima permintaan dari 11 negara yang ingin mempelajari cara menangkal serangan drone buatan Iran, menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam pesan yang diunggah melalui Telegram pada Senin (9/3), Zelensky menyebut sejumlah negara termasuk dari Eropa, kawasan Teluk, dan Amerika Serikat tertarik pada pengalaman Ukraina menghadapi drone Shahed yang digunakan Rusia dalam perang yang telah berlangsung sejak 2022.
“Hingga saat ini, ada 11 permintaan dari negara-negara yang berbatasan dengan Iran, negara-negara Eropa, dan AS. Ada ketertarikan yang jelas terhadap pengalaman Ukraina dalam melindungi nyawa, interseptor yang relevan, sistem perang elektronik, dan pelatihan,” ujar Zelensky.
Pengalaman perang melawan drone
Selama perang dengan Rusia, Ukraina menghadapi gelombang serangan drone yang intens. Zelensky mengatakan sekitar 57.000 drone tipe Shahed telah diluncurkan Rusia sejak invasi dimulai pada 2022.
Serangan itu terus meningkat. Pada Januari 2026 saja, lebih dari 4.400 drone jenis tersebut ditembakkan ke wilayah Ukraina — rata-rata sekitar 140 unit setiap hari.
Tekanan tersebut memaksa Kyiv mengembangkan sistem pertahanan drone berbiaya relatif murah. Drone pencegat yang dikembangkan Ukraina dilaporkan hanya berharga beberapa ribu dolar per unit.
Menurut laporan Reuters, drone ini berperan besar dalam sistem pertahanan udara di sekitar Kyiv. Pada Februari, sekitar 70% drone yang berhasil dicegat di wilayah tersebut dilaporkan dihentikan menggunakan sistem pencegat buatan Ukraina.
Perbandingan biaya juga menjadi faktor penting. Satu rudal PAC-3 untuk sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot dapat berharga sekitar US$4 juta.
Permintaan dari Timur Tengah
Minat terhadap teknologi tersebut muncul ketika negara-negara Timur Tengah mulai menghadapi ancaman serangan drone serupa. Menurut laporan Financial Times yang dikutip media Ukraina Militarnyi, Uni Emirat Arab telah meminta sekitar 5.000 drone pencegat dari Ukraina.
Qatar disebut meminta sekitar 2.000 unit, sementara Kuwait juga menyatakan minat terhadap teknologi serupa. AS dan Qatar secara terpisah sedang melakukan negosiasi untuk memperoleh sistem drone pencegat dari Ukraina.
Laporan lain dari The New York Times, yang dikutip media Ukraina Ukrainska Pravda, menyebut Kyiv telah mengirim drone pencegat serta tenaga ahli ke Yordania untuk membantu melindungi fasilitas militer Amerika di negara tersebut.
Perubahan sikap Kyiv
Langkah Ukraina ini menandai perubahan sikap Zelensky dalam waktu singkat.
Pada awal Maret, ia sempat mengusulkan pengiriman operator drone Ukraina ke Timur Tengah sebagai bagian dari upaya diplomatik: negara-negara Arab diminta membantu menekan Rusia agar menyetujui gencatan senjata.
Namun beberapa hari kemudian, Zelensky menghapus syarat tersebut.
Ia mengatakan telah menginstruksikan militer untuk menyediakan sumber daya dan memastikan kehadiran spesialis Ukraina setelah menerima permintaan langsung dari AS untuk membantu melindungi pasukannya di kawasan.
Kapasitas produksi meningkat
Lonjakan minat internasional juga terjadi ketika industri drone Ukraina berkembang pesat selama perang. Sejumlah produsen menyebut kapasitas produksi mereka kini bahkan melampaui kebutuhan domestik.
“Kami telah menerima minat dan pertanyaan dari sekutu kami dan negara-negara di Timur Tengah,” kata perwakilan perusahaan drone Ukraina SkyFall kepada Reuters.
Meski demikian, ekspor senjata dari Ukraina masih menghadapi kendala hukum. Kyiv memberlakukan larangan ekspor senjata pada 2022 untuk memprioritaskan kebutuhan perang di dalam negeri.
Di tengah keterbatasan sistem pertahanan udara, Zelensky juga mengusulkan skema pertukaran dengan negara-negara Timur Tengah: drone pencegat Ukraina ditukar dengan sistem pertahanan udara Patriot yang dimiliki sekutu di kawasan tersebut.
“Ini seperti menjual rumah, bukan hanya batu batanya,” kata pemimpin redaksi Defense Express, Oleh Katkov, kepada Associated Press, merujuk pada nilai pengalaman tempur nyata yang dimiliki teknologi drone Ukraina.

0Komentar