Jet tempur F-35B Lightning II milik Korps Marinir AS lepas landas dari dek kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA 7) pada 6 Maret. Kapal ini menjadi bagian dari pengerahan militer AS ke Timur Tengah di tengah eskalasi konflik Iran. | US MARINES


Lebih dari 3.500 personel militer Amerika Serikat tiba di Timur Tengah, termasuk kapal induk amfibi USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 Marinir. Pengerahan ini berlangsung di tengah peningkatan tajam serangan dalam konflik yang melibatkan Iran dan sekutunya di kawasan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut USS Tripoli kini telah memasuki area tanggung jawab operasionalnya sebagai kapal utama dalam Tripoli Amphibious Ready Group/31st Marine Expeditionary Unit. Kapal jenis big deck ini dirancang untuk mendukung operasi udara dan amfibi, dengan kapasitas bagi jet tempur siluman F-35, pesawat tiltrotor Osprey, serta berbagai aset serang lainnya.

Sebelumnya, kapal tersebut berbasis di Jepang sebelum menerima perintah pengerahan hampir dua pekan lalu. Selain Tripoli, kapal USS Boxer bersama dua kapal pendukung lain dan unit ekspedisi Marinir tambahan juga dikerahkan dari San Diego menuju kawasan yang sama.

Langkah ini diambil setelah serangan Iran terhadap pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi yang melukai sedikitnya 10 tentara AS, termasuk dua dalam kondisi serius. Serangan itu melibatkan enam rudal balistik dan 29 drone.

Operasi militer AS di kawasan juga meningkat signifikan. Berdasarkan data CENTCOM, lebih dari 11.000 target telah diserang sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington tetap membuka berbagai opsi militer tanpa harus mengerahkan pasukan darat. Ia menekankan kesiapan militer AS untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan di lapangan.

"Amerika Serikat dapat memenuhi tujuannya tanpa pasukan darat mana pun. Namun, Presiden Trump harus bersiap untuk berbagai kemungkinan dan pasukan Amerika tersedia untuk memberikan pilihan maksimal bagi presiden serta kesempatan maksimal untuk menyesuaikan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang muncul jika hal itu terjadi," ujar Rubio.

Konflik yang meluas ini mulai berdampak pada sistem global. Gangguan penerbangan sipil, hambatan ekspor minyak, serta lonjakan harga energi mulai terasa setelah Iran memblokade Selat Hormuz.

Situasi makin kompleks dengan keterlibatan kelompok Houthi di Yaman. Kelompok yang didukung Iran itu mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, yang menurut otoritas setempat berhasil dicegat.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari koordinasi dengan Iran dan Hizbullah, meski tanpa merinci lokasi spesifik. Ia juga mengklaim adanya serangan lanjutan yang menyasar Israel selatan.

Keterlibatan Houthi memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran global, khususnya di Selat Bab el-Mandeb—jalur vital menuju Terusan Suez. Analis International Crisis Group, Ahmed Nagi, memperingatkan potensi gangguan terhadap kapal komersial.

"Dampaknya tidak akan terbatas pada pasar energi saja," kata Nagi.

Tekanan pada jalur distribusi energi meningkat seiring banyak negara mencari rute alternatif setelah penutupan Selat Hormuz. Jalur melalui Bab el-Mandeb menjadi semakin strategis, terutama bagi pengiriman minyak dari Arab Saudi menuju pasar global.

Data menunjukkan sekitar 12% perdagangan dunia dan 10% perdagangan maritim global melewati Terusan Suez setiap tahun, termasuk 40% lalu lintas kapal kontainer. Dalam periode November 2023 hingga Januari 2025, Houthi tercatat telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang dan menenggelamkan dua di antaranya.

Di ranah diplomasi, ketegangan antara Washington dan Teheran belum mereda. Presiden Donald Trump memberi tenggat hingga 6 April bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Iran menolak tuntutan tersebut dan menegaskan tidak akan bernegosiasi.

Utusan AS Steve Witkoff menyebut Washington telah mengajukan 15 poin proposal gencatan senjata, termasuk pembatasan program nuklir Iran. Teheran menolak proposal itu dan mengajukan lima tuntutan balasan, di antaranya kompensasi serta pengakuan atas kedaulatan Iran di jalur perairan tersebut.