![]() |
| drone interceptor P1-SUN dari Ukraina. | AP PHOTO |
Ukraina mengirim 228 spesialis anti-drone ke lima negara Timur Tengah untuk membantu menghadapi meningkatnya serangan drone Iran, sekaligus membuka peluang kerja sama keamanan dan industri bernilai miliaran dolar.
Pengerahan ini mencakup Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan tim tersebut membantu pasukan setempat memperkuat perlindungan infrastruktur penting serta mengoperasikan sistem pencegat terhadap gelombang drone yang kian intens sejak konflik AS–Israel dengan Iran meletus pada 28 Februari.
Langkah ini berangkat dari pengalaman Kyiv menghadapi serangan drone Shahed buatan Iran yang digunakan Rusia sejak 2022.
Dalam periode itu, Ukraina mengklaim telah menghadapi hampir 60.000 unit drone, memaksa pengembangan teknologi pencegat dalam skala besar. Kapasitas produksi dalam negeri kini disebut mencapai sedikitnya 2.000 unit pencegat per hari.
Zelensky menyebut pengerahan tersebut sebagai respons atas kebutuhan negara mitra yang selama ini lebih berfokus pada ancaman rudal balistik.
“Spesialis pertahanan udara lokal memiliki tingkat keahlian yang cukup tinggi, tetapi mereka lebih banyak bekerja dengan rudal balistik,” ujarnya kepada wartawan, dikutip Reuters. “Adapun cara menghadapi serangan masif drone Shahed, saya rasa tidak ada yang memiliki pengalaman seperti kami.”
Jumlah personel yang dikerahkan meningkat dari 201 menjadi 228 orang dalam hitungan hari. Penambahan itu mengikuti laporan dari Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Rustem Umerov yang melakukan kunjungan ke negara-negara tersebut dan menilai kebutuhan teknis di lapangan.
Selain dukungan operasional, Kyiv secara terbuka mengincar imbal balik ekonomi dan teknologi.
“Kami menginginkan uang dan teknologi,” kata Zelensky, seraya menyebut pemerintahannya tengah menyiapkan “kesepakatan serius” dengan para pemimpin Timur Tengah.
Di saat yang sama, Ukraina juga melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat terkait kerja sama drone yang lebih luas.
Negosiator kedua negara dijadwalkan bertemu di Miami, dengan delegasi AS dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Nilai potensi kemitraan disebut berada di kisaran US$35 hingga US$50 miliar, mencakup produksi bersama dan transfer teknologi.
Hubungan Kyiv dan Washington dalam isu ini tidak sepenuhnya mulus. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan negaranya tidak membutuhkan bantuan Ukraina dalam pertahanan drone. Pernyataan itu berseberangan dengan klaim Zelensky bahwa pengerahan spesialis dilakukan atas permintaan Washington, termasuk untuk mendukung pangkalan militer AS di Yordania.
Terlepas dari ketegangan tersebut, Ukraina terus memperluas jejaring industrinya. Produksi drone bersama telah berjalan dengan Jerman, Inggris, Denmark, dan Belanda, serta mulai dijajaki dengan Norwegia. Pejabat Ukraina menyebut hampir selusin negara telah meminta bantuan serupa di bidang pertahanan anti-drone.

0Komentar