![]() |
| Armada kapal tanker yang terlibat dalam situasi navigasi di Selat Hormuz. |
Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan terbuka untuk bergabung dalam upaya multinasional yang dipimpin Amerika Serikat guna mengamankan kembali pelayaran di Selat Hormuz, jalur energi strategis dunia yang terganggu akibat eskalasi konflik dengan Iran.
Penasihat diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, mengatakan negaranya dapat berpartisipasi bersama negara lain dalam menjaga kelancaran perdagangan global, meski hingga kini belum ada rencana resmi yang disepakati.
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi daring yang diselenggarakan Council on Foreign Relations pada Selasa.
“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan arus perdagangan, arus energi,” ujar Gargash. Ia menekankan tanggung jawab tersebut seharusnya melibatkan negara-negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, mengingat ketergantungan luas terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
Jalur minyak dunia terganggu
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran kemudian merespons dengan langkah yang secara efektif menutup jalur pelayaran tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Korps Pengawal Revolusi Islam dilaporkan menyerang lebih dari 20 kapal dagang, dengan sejumlah kapal tenggelam atau terbakar dan kerugian mencapai ratusan juta dolar AS.
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengatakan bahwa “tuas penutupan Selat Hormuz tentunya harus terus digunakan”. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan selat itu “hanya ditutup untuk musuh kami, bagi mereka yang melancarkan agresi tidak adil terhadap negara kami dan sekutu mereka”.
Respons sekutu Barat
Presiden Donald Trump sebelumnya meminta sejumlah negara sekutu mengirim kapal perang untuk mengawal kapal tanker melalui selat tersebut. Ia bahkan memperingatkan dalam wawancara dengan Financial Times bahwa penolakan sekutu akan berdampak buruk bagi masa depan NATO.
Namun sejumlah negara Eropa menolak keterlibatan militer langsung. Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan kepada FRANCE 24 bahwa negaranya “tidak berpartisipasi dalam perang ini”.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut situasi tersebut “bukan urusan NATO”, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Inggris “tidak akan terseret ke dalam perang”.
Di tengah penolakan tersebut, keterbukaan UEA dipandang sebagai sinyal pertama dari negara Teluk besar yang secara terbuka mempertimbangkan dukungan terhadap inisiatif keamanan maritim yang diusulkan Washington.
Gargash juga mengatakan bahwa setelah konflik berakhir, diperlukan pengaturan keamanan baru untuk memastikan Iran tidak menggunakan program nuklir, rudal, maupun drone “untuk meneror kawasan”. Ia menambahkan UEA saat ini tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Teheran.

0Komentar