Presiden AS Donald Trump berbicara selama makan siang dengan anggota dewan Kennedy Center di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. | Jonathan Ernst/Reuters


Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam NATO dan sejumlah sekutu utama setelah negara-negara Barat menolak permintaan Washington untuk mendukung operasi militer di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang terganggu sejak konflik dengan Iran meningkat akhir Februari.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa (17/3) di Gedung Putih saat menerima Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin dalam perayaan St. Patrick’s Day. Ia menyebut penolakan sekutu sebagai “kesalahan yang sangat bodoh” dan menggambarkannya sebagai ujian besar bagi aliansi Barat.

“Kami tidak membutuhkan mereka, tetapi seharusnya mereka ada di sana,” kata Trump.

Selat strategis di tengah eskalasi konflik

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian direspons Teheran dengan operasi balasan di kawasan Teluk Persia. Jalur laut tersebut menjadi sulit dilintasi, memicu lonjakan harga energi internasional.

Washington kemudian meminta sekutu NATO dan mitra keamanan di Asia-Pasifik untuk mengirim kapal perang guna membantu pengamanan jalur pelayaran tersebut. Permintaan itu mendapat penolakan luas.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan negara-negara anggota tidak bersedia memperluas misi angkatan laut Operation Aspides di Laut Merah ke Teluk Persia.

“Tidak ada yang siap menempatkan rakyat mereka dalam bahaya di Selat Hormuz,” ujarnya setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels. Ia menambahkan konflik tersebut bukan perang yang dimulai Eropa dan negara-negara anggota tidak mengetahui tujuan militernya.

Penolakan dari Eropa hingga Asia

Pemerintah Jerman termasuk yang paling tegas menolak keterlibatan militer. Menteri Pertahanan Boris Pistorius mempertanyakan efektivitas kontribusi Eropa dibanding kekuatan Angkatan Laut AS.

“Apa yang Trump harapkan dari segelintir fregat Eropa yang dapat dicapai di Selat Hormuz yang tidak bisa dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang kuat?” katanya.

Juru bicara Kanselir Friedrich Merz menegaskan konflik tersebut “tidak ada kaitannya dengan NATO” dan partisipasi militer tidak sedang dibahas.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan negaranya hanya akan mempertimbangkan membantu pengamanan selat setelah konflik berakhir. 

“Kami bukan bagian dari konflik ini, dan oleh karena itu Prancis tidak akan pernah berpartisipasi dalam operasi untuk membebaskan Selat Hormuz” dalam kondisi saat ini, ujarnya.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan London tidak ingin “terseret ke dalam perang yang lebih luas”, meski tetap membuka kemungkinan bentuk bantuan terbatas.

Penolakan juga datang dari mitra keamanan AS di Asia. Jepang, Australia, dan Korea Selatan dilaporkan menolak permintaan pengiriman kapal perang.

Sikap Washington yang dinilai kontradiktif

Kebuntuan diplomatik ini menyorot perubahan nada dari Trump sendiri. Selama beberapa pekan sebelumnya, ia berulang kali menegaskan AS tidak membutuhkan dukungan militer sekutu, bahkan sempat meminta Inggris tidak mengirim kapal induk.

“Kami tidak butuh orang-orang yang ikut gabung dalam perang setelah kami sudah menang!” tulisnya di platform Truth Social awal bulan ini.

Namun dalam wawancara dengan Financial Times, Trump memperingatkan bahwa masa depan NATO bisa terdampak jika sekutu menolak membantu. Ia juga mengeluhkan negara-negara mitra bahkan tidak bersedia mengirim “beberapa kapal penyapu ranjau”.

Menurut laporan Associated Press, Departemen Luar Negeri AS turut mengirim kabel diplomatik kepada berbagai kedutaan untuk mendorong negara-negara lain menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran dan Hizbullah sebagai organisasi teroris, seiring meningkatnya tekanan diplomatik terhadap Teheran.